In Memoriam Jakob Oetama

Published by CorComm

oleh: Indra Gunawan M. (Purnakaryawan KG, Wakil CEO Kompas Gramedia 1992–2004)

Banyak sudah ditulis berbagai kesan dan kenangan terhadap Bapak Jakob Oetama, salah satu pendiri Kompas Gramedia: Ia humanis besar, nasionalis sejati. Semua itu benar dan saya ingin menambahkan hal lain.

Ia sebetulnya juga manusia praksis, seorang yang merasa bahwa konsep atau teori itu harus berjalan seiring dengan praktik. Ia seorang yang gumunan terhadap ide-ide besar, seperti jalan tengah antara kapitalisme dengan sosialisme oleh Anthony Giddens, ataupun Culture Matters yang merupakan kumpulan pemikiran dari sejumlah pakar berbagai bidang seperti ekonomi, politik, kebijakan publik, antropologi, dan lain-lain yang mengadakan simposium disponsori oleh Harvard University pada akhir abad ke-20.

Simposium itu menyimpulkan bahwa budaya juga menentukan dalam pembangunan suatu bangsa, kebijakan publik dan perundang-undangan saja tidak cukup. Selain itu, model pembangunan tidak bisa serta-merta “salin dan tempel” model pembangunan negara lain. Misalnya kita belajar dari Tiongkok atau Amerika, meski demikian kita tak dapat meniru begitu saja model mereka.

Sekalipun mengagumi ide besar, serentak dengan itu Pak Jakob juga yakin bahwa ide besar jika tak dapat dilaksanakan maka maknanya pun berkurang. Sama halnya dengan praktik tanpa dilandasi ide/konsep besar, hasilnya pun hanya begitu-begitu saja.

Hal lain yang perlu diutarakan adalah Pak Jakob seorang manusia ugahari, manusia moderat. Jalan tengah bukan saja dalam sikap dan pandangan hidupnya seperti dalam politik tetapi juga dalam menjalani hidup ekonomi. Ia berpakaian sepantasnya saja, makan cukup dengan semangkuk soto dan sedikit nasi, atau sewaktu lebih muda cukup sebungkus gado-gado dan lontong. Ada asketisme pengendalian diri. Ia juga seorang visioner yang melihat mengapa kebudayaan digital adalah suatu keniscayaan.

Kini adalah tugas generasi pimpinan berikutnya untuk menjabarkan secara lebih tajam bagaimana dan apa yang harus diperbuat. Tidak secara setengah-setengah, tetapi secara tuntas. Semoga! (*)

Content Writer

AGATHA TRISTANTI

Corporate Branding Analyst

KOMPAS GRAMEDIA - CORPORATE COMMUNICATION