Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

10 Manfaat Bakteri Baik

Kesehatan usus menjadi topik trending belakangan ini. Istilah bakteri baik dan berbagai manfaatnya semakin sering disebut. Sebenarnya, sehebat itukah bakteri usus?

Bakteri usus sebenarnya merupakan bagian dari mikrobiota usus.

Mikrobiota adalah kumpulan mikroorganisme: bakteri, jamur, virus, archaea, protozoa yang hidup dalam dan di tubuh manusia dan hewan. Sebagian bersifat baik bagi kesehatan, sebagian berbahaya.

Mikrobioma adalah mikrobiota seluruh aktivitasnya, seluruh senyawa aktif yang dihasilkan dalam sebuah ekosistem tertentu. Mikrobioma ada pada saluran pencernaan, saluran pernapasan atas termasuk mulut dan hidung, mata, kulit, saluran kemih dan kelamin. Sekitar 70% dari seluruh mikrobioma pada manusia ada di usus, terutama usus besar.

Tentunya mikrobiota tidak “menumpang hidup” secara gratis, mereka “membayar” dengan berbagai manfaat bagi kesehatan mental dan fisik:

1. Benteng utama kesehatan fisik.

Sekitar 70-80% sel imunitas ada dalam usus. Mikrobioma berfungsi sebagai ‘lembaga pelatihan’ sel-sel imun ini. Tujuannya agar mampu mengenali mana musuh (patogen), mana sel tubuh sendiri, atau mana bahan yang dibutuhkan seperti makanan atau nutrisi.

2. Membantu produksi vitamin K, beberapa vitamin B dan penyerapan asam amino, mineral seperti kalsium, magnesium, besi.

3. Memberi “makan” dinding usus. Mikrobiota melakukan proses fermentasi serat. Hasilnya adalah asam lemak rantai pendek. Ini jadi sumber energi utama dinding usus.

4. Mencegah peningkatan permeabilitas usus, lebih dikenal sebagai usus bocor. Jika mikrobioma rusak (dysbiosis), dinding usus melonggar. Akibatnya, isi usus, termasuk racun, yang belum siap masuk ke darah jadi masuk ke aliran darah. Ini memicu respon imun dan berkontribusi pada peradangan kronis di seluruh tubuh.

5. Melakukan fungsi menyerupai liver: membantu penyaringan, detoksifikasi, dan metabolisme toksin, sisa obat, dan karsinogen.

6. Sekitar 90% serotonin (hormon pengatur mood dan kebahagiaan) diproduksi di usus dengan bantuan mikrobioma. Meskipun serotonin buatan usus tidak bisa masuk langsung ke otak, aktivitas di usus memicu saraf vagus untuk mengirim sinyal elektrik ke otak. Sinyal ini membantu menyediakan triptofan sebagai bahan baku serotonin. Ketika keseimbangan mikrobioma terganggu, sistem respons stres meningkat, hormon stres diproduksi lebih banyak. Mikrobiota juga membantu produksi triptofan, dopamin, dan norepinefrin yang mempengaruhi kesehatan mental.

7. Membantu pengaturan irama sirkadian, termasuk siklus tidur.

8. Mempengaruhi pola makan. Mikrobioma usus “mendikte” jenis dan jumlah makanan kita. Setiap jenis mikrobiota memiliki preferensi makanan yang berbeda. Sebagai analogi, mikrobioma mirip kebun binatang yang berisi berbagai hewan, tumbuhan, atraksi menghibur, petugas dan pengunjung, termasuk juga semua buah dari pepohonan, sampah, dan kotoran hewan. Sedangkan mikrobiota adalah hewan serta tumbuhannya. Setiap hewan memilih makanan yang berbeda, kelinci makan wortel, macan suka daging. Jika jumlah macan dominan, otomatis permintaan daging akan meningkat.

Golongan Firmicutes sangat menyukai gula dan karbohidrat sederhana. Jika populasinya meningkat, mereka “meminta makan” dengan mengirim sinyal kimia ke otak. Sinyal ini memicu keinginan kuat untuk makan makanan manis.

Golongan Bacteroidetes lebih menyukai serat (sayur, buah). Saat mencerna makanan favoritnya, mereka akan mengirim sinyal kenyang dan tenang ke otak sehingga mencegah makan berlebihan.

9. Mengatur hormon kenyang dan lapar.

10. Mempengaruhi penyerapan kalori dan penyimpanan lemak.

Jadi sekarang berapa nih nilai kamu untuk si bakteri baik?

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia