Kemampuan menghidu atau mencium bau/aroma seringkali dianggap sepele. Tetapi ketika kemampuan itu menghilang, efek yang dirasakan sangat drastis, bahkan dapat menimbulkan depresi pada penderitanya. Pada beberapa penyakit dan keadaan, kemampuan indra penghidu bisa turun (hiposmia) atau menghilang (anosmia). Anosmia/hiposmia dapat sembuh jika penyebabnya ditanggulangi, misalnya anosmia yang terjadi karena adanya polip, jika polip dibuang, maka anosmia akan kembali. Manfaat indra penghidu dalam kehidupan kita terkait dengan: 1. Kemampuan kita menikmati makanan/minuman. Wangi makanan/minuman akan menambah selera makan. 2. Kemampuan kita menghindari bahaya misalnya bau busuk pada makanan membuat kita terhindar dari makanan yang sudah tidak layak konsumsi, bau asap dari kebakaran, bau gas yang bocor, dan lainnya membuat kita waspada dan dapat segera mengambil tindakan. 3. Hubungan personal dengan orang lain, misalnya bau parfum pasangan, bau wangi bayi. Pada beberapa situasi, kemampuan mengenali bau akan berkurang, menghilang atau menjadi kacau (bau yang tercium tidak sesuai dengan realitas). Hilangnya kemampuan menghidu (mencium bau-bauan) disebut anosmia. Sedangkan turunnya kemampuan menghidu disebut hyposmia. Beberapa penyebab anosmia/hyposmia adalah: 1. Infeksi oleh virus atau bakteri. 2. Ada sumbatan berupa polip atau tumor. 3. Alergi. 4. Trauma pada kepala. 5. Gangguan pada saraf penghidu. 6. Pemakaian beberapa obat. 7. Efek dari radiasi pada kepala. 8. Paparan zat kimia berbahaya. Penyakit COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 juga dapat menyebabkan anosmia. Bahkan seringkali anosmia merupakan gejala yang paling awal dirasakan oleh pasien COVID-19. Tidak jarang pula anosmia merupakan satu-satunya gejala yang dirasakan. Pada umumnya anosmia pada COVID-19 akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1 sampai 21 hari. Berdasarkan penelitian, 98% anosmia akan menghilang dalam waktu 28 hari. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mempercepat penyembuhan anosmia pada COVID-19: 1. Berhenti merokok. Kebiasaan merokok bukan hanya mengganggu kepekaan indra penghidu tetapi juga menurunkan imunitas tubuh, mengganggu fungsi paru, jantung, dan pembuluh darah. Berhenti merokok dapat mempercepat penyembuhan COVID-19 dan meningkatkan kesehatan secara umum. 2. Membilas hidung dengan larutan air garam. Hal ini dapat dilakukan dengan menyemprotkan air garam NaCl 0,9% yang biasa digunakan untuk cairan infus, ke dalam rongga hidung. Hindari penggunaan air yang dicampur dengan garam dapur karena seringkali garam dapur ditambahkan dengan iodium. Iodium dapat merusak selaput lendir hidung. 3. Latihan olfaktori atau terapi bau Latihan ini sangat mudah dilakukan. Terapi bau pada dasarnya merupakan semacam fisioterapi untuk indra penghidu/penciuman. Tujuannya adalah untuk meningkatkan sensitivitas saraf di hidung agar mampu merespons rangsangan bau dengan lebih baik. Caranya dengan menghirup aroma yang berbeda-beda seperti mawar, lemon, cengkeh, dan eukaliptus. Ketika menghirup bau-bau tersebut, bayangkan bau itu dan bentuknya. Terus saja ulangi setiap hari agar ‘jembatan’ antara saraf penghidu di hidung terbentuk dan terhubung kembali dengan otak. Jika saat berlatih dicium bau yang tidak sesuai dengan realitas (misalnya mencium bau kopi pada saat menghirup bau mawar) terus saja melanjutkan latihan dan tetap berusaha membayangkan bau yang sesuai. 4. Suplemen Beberapa peneliti sedang menggali kaitan antara vitamin D dan anosmia. Ada pula yang memberikan suplemen omega 3, zinc, atau vitamin A intranasal.   Penulis: dr. Santi/Medical Center KG Penyunting: Devin Airlangga/Corp. Communications KG

CONTINUE READING

CATEGORY Info KG

PUBLISHED Aug 08, 2022

Wellbeing Articles

Kesejahteraan diri, dimulai dari kesadaran untuk menyayangi diri. Temukan informasi-informasi terkini untuk meningkatkan kesejahteraan diri dari aspek fisik, mental, dan finansial.

Looking For Community?
Discount For You!