Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Apakah Hantavirus Akan Jadi Pandemi?

Masa pandemi COVID-19 masih real banget traumanya sampai sekarang. Berita seliweran tentang Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius itu ibarat luka mau kering, digaruk-garuk lagi. Tapi, chill dulu. Informasi yang seringnya cuman separuh bahkan kadang cuma seupil malah justru lebih bahaya daripada virusnya sendiri. Artikel ini buat nge-spill logikanya supaya bisa tetap waspada tanpa harus parno berlebihan.

Plot twist: Hantavirus bukan “pemain baru”

Faktanya, Hantavirus ini bukanlah virus baru ketemu. Dia sudah puluhan tahun eksis di bumi, termasuk di Indonesia. Bahkan berdasarkan riset, 11,6% orang Indonesia pernah terinfeksi Hantavirus secara nggak sadar. Kenapa nggak sadar karena gejala yang ditimbulkan mirip kayak masuk angin biasa, influenza, dan bisa mereda, sembuh sendiri tanpa banyak drama. Dari riset juga ketahuan bahwa kota besar di Indonesia: Jakarta, Bandung, Semarang, dan Denpasar punya risiko tinggi terkait Hantavirus. Riset yang sama juga memberi fakta gong, sekitar 34% populasi tikus sudah jadi “rumah alami” Hantavirus. Jadi sebenarnya virus ini “tetangga lama” kita. Pasti mau protes! Ah, masa? Kok anteng wae? Jawabannya ada di varian. Baca sampai selesai baru protes.

Andes vs Seoul: Beda varian, beda vibes

Hantavirus punya sekitar 38 varian, tapi nggak semuanya serem. Yang heboh di kapal pesiar itu adalah varian Andes, sedangkan yang ada di Indonesia itu varian Seoul.

Varian Seoul

Si virus cuma bisa pindah dari tikus ke manusia. Dia nggak mampu pindah dari manusia ke manusia alias penularan antar manusia tidak ada. Varian ini lebih spesifik menyerang ginjal. Angka kematiannya rendah, di dunia cuma sekitar 1-2%, meskipun di Indonesia tercatat 13% (mungkin karena terlambat dapat perawatan atau infrastruktur yang masih belum memadai).

Varian Andes

Ini varian satu-satunya yang punya kemampuan sakti, berpindah dari orang ke orang, nggak cuma dari tikus ke orang aja. Tapi tenang, syarat pindah ke orang berat, harus kontak erat misalnya tinggal serumah atau ngerawat pasien. Jadi kalau sekadar papasan di mall, satu lift bareng mah risiko penularannya hampir nol. Varian ini hobi serang paru-paru. Makanya gejalanya ada batuk, sesak. Bikin heboh karena angka kematian yang lumayan wow, 30-50%.

Skenario kalau varian Andes masuk ke Indonesia

Secara logika, mungkin-mungkin aja Andes masuk ke Indonesia. Bisa masuk lewat via orang yang terinfeksi atau lewat hewan yang “diimpor”, terutama golongan pengerat: tikus. Bisa aja ada pecinta hewan eksotis, lha, si ikan sapu-sapu itu bisa ada di Indonesia, padahal asli Amerika. Atau si tikus numpang di kargo impor barang.

Seandainya pun Andes masuk Indonesia, secara ilmu, sulit menjadi cikal bakal pandemi lagi. Hantavirus biasanya punya inang spesifik, setiap varian punya hobi ngekost (baca bersarang, menyerang) di spesies tertentu. Varian Andes pilih tikus Long-tailed Pygmy Rice Rat yang cuma ada di Amerika. Tikus Indonesia? Nggak cocok, varian ini ogah tinggal di tikus lokal. Selain itu, penularan tidak semudah COVID-19, influenza, atau cacar air. Butuh kontak erat dan fase penularan baru terjadi ketika orang bergejala.

Tugas kita ketika nanti si Andes masuk Indonesia adalah menjaga agar hanya staycation aja, nggak sampai menetap! Jangan bawa hewan pengerat asing masuk, tekan populasi tikus, dan stay at home kalau lagi sakit. Gampang, kan?

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia