Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Asam Urat Naik, Padahal Nggak Makan Jeroan? Ini Kata Eka Hospital

Sebagai bagian dari rangkaian acara FU & KG PRO Fit and Friendly Competition, cek kesehatan meliputi pemeriksaan tekanan darah, kadar kolesterol, asam urat, gula darah, indeks massa tubuh, lemak tubuh, lemak perut, lingkar pinggang, dan body age dilakukan pada tanggal 22 September 2026 di O2 Corner. Pemeriksaan ini didukung oleh Eka Hospital atas kerja sama dengan 8 unit meliputi Permata Hijau, Depok, BSD, Pluit, Cibubur, Bekasi, Pantai Indah Kapuk, dan Pekanbaru. Acara berlangsung tepat waktu dan lancar tanpa kendala berarti.

Beberapa karyawan terkejut ketika menerima kenyataan bahwa asam urat dalam darahnya melonjak. Padahal merasa tidak bergejala dan tidak konsumsi daging merah, jeroan, atau kepiting. Yuk, kita bongkar!

Memang kebanyakan tidak bergejala

Hiperurisemia adalah kondisi kadar asam urat dalam darah meningkat. Sebagian besar tidak memberikan gejala apapun. Hanya sekitar 10-15% yang bergejala. Baik bergejala maupun tidak, hiperurisemia dapat berujung pada gout atau batu di ginjal dan berkaitan dengan gangguan kesehatan lain seperti Sindroma Metabolik, diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, hipertensi, penyumbatan pembuluh darah, obesitas, dan penyakit ginjal kronis.

Bukan cuman akibat konsumsi daging merah, jeroan, atau kepiting saja!

Hiperurisemia terjadi ketika:

  • produksi asam urat meningkat
  • pembuangan asam urat menurun
  • kombinasi keduanya.

Kali ini yang kita bongkar adalah peningkatan produksi asam urat.

Kondisi ini terjadi akibat:

  • Konsumsi makanan tinggi purin. Pangan hewani tinggi purin misalnya daging merah, jeroan, beberapa jenis seafood: sarden ikan teri, kerang, kepiting. Beberapa pangan nabati memang banyak mengandung purin seperti kembang kol, asparagus, jamur, bayam, emping, tetapi risikonya tidak seburuk pangan hewani karena masih mengandung serat dan nutrisi lain. Bagi orang yang sangat sensitif, konsumsi pangan nabati tersebut berpotensi meningkatkan asam urat apalagi jika dikonsumsi berlebihan.
  • Konsumsi fruktosa terutama sirup jagung tinggi fruktosa. Sirup ini banyak digunakan sebagai pemanis dalam berbagai minuman dan makanan. Proses penyerapan fruktosa berlangsung di hati dan menghasilkan produk sampingan berupa adenosin monofosfat yang akan segera dipecah menjadi asam urat.

Fruktosa juga hadir dalam gula pasir, madu, jus buah dan buah kering sehingga perlu pembatasan konsumsi. Berbeda dengan buah utuh yang dimakan langsung, kandungan serat, air, kalium, dan vitamin C membantu mengurangi efek fruktosa buah. Khusus buah dengan fruktosa sangat tinggi: durian, mangga matang, anggur, perlu pembatasan konsumsi juga.

  • Konsumsi bir. Lonjakan asam urat terjadi akibat produksi asam urat meningkat dan sekaligus pengeluarannya menurun. Bir dibuat dengan menggunakan ragi dan biji-bijian sehingga kaya akan purin. Kandungan alkohol dalam bir akan dipecah dalam hati dan menghasilkan by product berupa asam urat. Proses ini juga menghasilkan banyak asam laktat. Asam urat dan asam laktat memiliki jalur pembuangan yang sama, urine. Sementara ginjal punya kapasitas terbatas. Ginjal akan memberi prioritas pada asam laktat untuk dibuang lebih dulu daripada asam urat. Akibatnya terjadi penumpukan asam urat.
  • Hasil by product dari proses metabolisme atau kerusakan sel-sel dalam tubuh. Kerusakan sel terjadi pada:
    • beberapa penyakit seperti psoriasis, kanker
    • melakukan olahraga ekstrem
    • crash diet atau puasa terlalu ketat.

Jangan ragu untuk konsul ke nakes untuk penjelasan dan penanganan lebih lanjut, ya.

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia