Bisa tidur dengan nyenyak itu privilege!
Dalam hidup ini kita sering banget lupa mengucap syukur karena nggak sadar kalau hal itu berharga. Sampai hal yang disepelekan itu direnggut, barulah kita ngerasa itu sebuah “luxury item" yang wow. Sama kayak tidur, buat yang bisa tidur, terasa biasa, sepele. Tapi buat yang insomnia, bisa tidur udah kayak dapat undian berhadiah mobil.
Berdasarkan Survei YouGov di akhir tahun 2023, ternyata orang dewasa di Indonesia per hari tidur:
- 51% kurang dari 7 jam
- 24% malah kurang dari 5 jam
- 25% pas 7 jam
- 22% bisa 8 jam.
Padahal durasi tidur itu nyambungnya ke mana-mana, nggak cuma kesehatan fisik, tapi juga ke mental, mood, sampe ke otak kita.
Kenapa susah tidur?
Banyak faktor, nggak melulu soal kasur sama bantal, tapi bisa dari dalam diri atau kondisi sekitar.
- Mental lagi ribet. Mikirin sampe overthinking, stres, cemas soal kerjaan, pasangan, keluarga, duit, penyakit, sampe rekan kerja. Otak nggak mau kerja sama, nolak melulu kalau disuruh switch off. Pikiran muter terus kayak playlist tanpa tombol stop.
- Kondisi fisik. Nyeri kronis, penyakit kayak diabetes, GERD, Parkinson, Alzheimer sampai asma bisa bikin perkara tidur jadi drama. Penyakit sepele kayak hidung mampet karena lagi radang tenggorokan juga bisa bikin susah rebahan dengan tenang.
- Hormonal Chaos. Gangguan bulanan cewe alias PMS, kehamilan, menopause, andropause, atau gangguan tiroid bisa memicu insomnia muncul tanpa pakai permisi.
- Self-esteem issue. Ini memang agak rumit, hal yang kelihatan remeh, buat orang lain bisa jadi beban besar. Misalnya perkara jerawat sebiji, berat badan naik, atau masalah lainnya.
- Efek samping obat. Beberapa jenis obat untuk asma, darah tinggi, depresi, sampai obat batuk bisa bikin tidur kabur.
- Circadian rhythm kacau. Jet lag, shift kerja, atau kebiasaan tidur nggak teratur bikin jam biologis tubuh error. Tubuh jadi bingung, kapan waktunya charge baterai, kapan waktunya bangun.
- Lifestyle yang ngaco. Tidur nggak konsisten, hobi begadang, kadang tidur seharian, makan berat pas sebelum jam tidur, scroll kelamaan sampe screen time ngalahin sleep time, kebanyakan kafein atau alkohol, bahkan merokok. Semua ini jadi faktor nambah susah tidur.
Jadi, solusinya apa?
Tenang, ada kok jalan keluarnya. Bukan langsung lari ke obat tidur, tapi gali akar masalahnya dulu. Bereskan, baru tidur nyenyak bisa balik lagi. Jangan nunggu perkara susah tidur ini merembet ke mana-mana baru kita panik. Ambil langkah secepatnya, gercep.
Ingat, tidur itu bukan cuma masalah charge baterai badan. Tidur itu investasi berharga buat kesehatan luar dalam. Yuk, mulai refleksi, udah punya privilege tidur nyenyak atau belum nih? Kalau belum, bongkar akar perkara, bereskan agar aman. Tag temen yang suka susah tidur atau yang hobi begadang, biar mereka ikutan sadar bahwa tidur itu bukan buang waktu doang, tapi investasi masa depan.
Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia