Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Di Balik Nikmatnya Hidangan Lebaran: Ancaman Gula Darah bagi Diabetesi

Lebaran merupakan momen penuh kebahagian dan seperti biasanya, sebuah momen kebahagian sering dilengkapi dengan aneka hidangan istimewa. Kuliner Lebaran di Indonesia identik dengan makanan bersantan, berlemak, ketupat, kue-kue lebaran, dan tentunya minuman manis sebagai pelengkap.

Bagi diabetesi, momen ini bisa merupakan titik rawan. Konsumsi yang berlebihan, diiringi dengan kurangnya aktivitas fisik, kelelahan, dan kurang tidur, akan menjadi alasan gula darah melonjak. Pada beberapa kasus, misalnya pada diabetesi yang tidak terkontrol, lonjakan gula bisa berujung pada kecacatan atau bahkan kematian. 

Apa yang terjadi?

1. Konsumsi hidangan Lebaran secara berlebihan dan pilihan hidangan yang kurang tepat.

Diabetesi sulit mendapatkan hidangan lebaran yang bersahabat dengan gula darah. Akibatnya diabetesi cenderung memilih makanan yang manis. Acara makan kerap disertai dengan berbincang-bincang. Timbul keadaan yang disebut mindless eating, makan tanpa kesadaran atau perhatian penuh. Ini membuat orang makan lebih banyak. Parahnya lagi, mindless eating juga membuat ‘lupa’ telah makan apa dan berapa banyak sehingga jumlah yang dimakan waktu makan berikutnya akan meningkat juga.

2. Kurang minum air putih.

Tidak dapat dipungkiri, air putih seringkali terlupakan saat Lebaran. Padahal kurang minum memicu dehidrasi. Konsumsi yang manis-manis dan asin akan menambah efek dehidrasi. Dehidrasi akan meningkatkan gula darah.

3. Kurang aktivitas fisik dan olahraga.

Umumnya lebaran identik dengan cuti dan pulang kampung dan persepsinya adalah istirahat, bersuka ria. Belum lagi acara sangat padat, perjalanan, silaturahmi, berlibur ke tempat wisata, membuat waktu dan keinginan untuk olahraga menjadi minim.

4, Kelelahan dan kurang tidur.

Gula darah meningkat menyebabkan rasa lelah dan sulit tidur. Sebaliknya, kelelahan dan kurang tidur juga bisa meningkatkan kadar gula darah.

Apa yang harus dilakukan?

Mulai dengan beberapa hal sederhana ini:

1. Konsultasi ke dokter.
2. Monitor kadar gula darah lebih sering
.

Gejala peningkatan gula darah sering samar sehingga gejala tidak dapat diandalkan sepenuhnya, perlu pemeriksaan akurat.

3. Secepatnya memperbaiki pola makan.

Cukup minum air putih atau cairan apapun yang bebas karbohidrat.

Batasi karbohidrat terutama karbohidrat sederhana (makanan /minuman yang terbuat dari tepung, gula pasir, gula jawa, gula aren, madu, dll). Cukupi kebutuhan protein dan lemak baik dan tambah asupan serat terutama sayuran.

Konsumsi beberapa bahan yang bisa membantu menurunkan gula darah seperti okra, kol, kembang kol, brokoli, kayu manis, dan cuka apel. Hati-hati untuk konsumsi cuka apel, sifatnya asam sehingga berpotensi menimbulkan kerusakan gigi dan gangguan pencernaan.

4. Aktif bergerak dan olahraga rutin.

Panduan sederhana:

  • Semakin banyak otot yang terlibat, semakin banyak gula darah yang terpakai, misalnya berenang akan cepat menurunkan gula karena banyak otot yang digunakan: leher, lengan, punggung, bokong, sampai tungkai
  • Semakin tinggi intensitas, semakin cepat gula darah turun, tapi ingat, selalu menyesuaikan dengan kemampuan
  • Semakin lama, umumnya semakin banyak gula terbakar, tapi tidak otomatis semakin lama semakin baik, tapi sesuaikan dengan batas masing-masing.

Beberapa gerakan sederhana yang efektif: jalan cepat, squat, angkat kaki atau paha berulang saat duduk, berjinjit.

Biasakan cek kadar keton dan gula darah, jika gula di atas 270 mg/dL atau di bawah 100 mg/dL, sebaiknya konsultasi ke dokter dulu.

5. Prioritaskan kecukupan tidur.

Kurang tidur meningkatkan gula karena hormon kortisol meningkat. Sebaliknya gula darah tinggi akan mengganggu tidur karena sering berkemih.

Yuk, jadi lebih baik!

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia