Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Eka Hospital Ungkap Dampak Kebiasaan Nunduk, Bungkuk, dan Duduk pada Tulang dan Sendi

Dalam rangka merayakan hari lahir Radio Sonora, Group of Radio mengadakan serangkaian acara "OTW Sehat" bersama Eka Hospital dan Corporate HR Kompas Gramedia. Salah satu rangkaian berupa seminar hybrid dengan dr. Billy Ng, Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Eka Hospital.

Dokter Billy, SpKFR, membagikan edukasi seputar “Ergonomi Kerja”. Tak sekadar memberikan edukasi, beliau juga berbagi pengalaman pribadi sebagai pasien yang pernah didiagnosis mengalami gangguan saraf dan otot, meski sebelumnya merasa baik-baik saja. Kondisi tersebut akhirnya membuat beliau harus menjalani rehabilitasi.

Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa merasa sehat dan terlihat sehat belum tentu berarti tubuh benar-benar dalam kondisi sehat.

Berbagai gangguan kesehatan terkait tulang, sendi, otot, dan saraf tidak selalu memberikan gejala jelas yang membuat penderitanya sadar dan cepat berkonsultasi tentang keluhannya ke tenaga medis. Pada awal mungkin tidak bergejala sama sekali. Berjalan dengan waktu, gejala tidak khas mulai muncul seperti pegal atau otot terasa kencang. Jika berlangsung terus, maka gejala semakin jelas dan mengganggu. Sayangnya, ketika tiba di titik ini, kerusakan organ sudah terjadi dan tidak selalu dapat dipulihkan secara sempurna. Banyak gangguan tersebut yang bersumber dari hal yang sederhana dan sepele: postur tubuh dan kurang latihan tubuh. 

Postur Tubuh

Posisi yang kerap dilakukan dalam jangka waktu lama yang merusak postur tubuh adalah terlalu banyak: “nunduk, bungkuk, dan duduk”. 

Secara anatomi, tubuh memiliki titik berat alami di sekitar area panggul saat berdiri tegak. Ketika kita mempertahankan postur tubuh yang baik, maka seluruh berat badan akan didistribusikan secara seimbang ke sepanjang kelengkungan alami tulang belakang. Ketika banyak dan terbiasa melakukan gerakan “nunduk, bungkuk, dan duduk” maka terjadi pergeseran titik berat tubuh yang akhirnya menimbulkan gangguan seperti:

  • Nyeri otot
  • Kelainan tulang belakang misalnya skoliosis, kifosis
  • Gangguan saraf seperti saraf kejepit. Ini terjadi akibat jeli peredam kejut yang berada di setiap ruang antar ruas tulang belakang, mengalami tekanan yang tidak merata. Jika tekanan berat dan atau berlangsung terus menerus maka timbul robekan dinding pelindung jeli peredam kejut. Jeli akan keluar dan menekan serabut saraf dan ini disebut sebagai saraf kejepit. 

Cara Mencegah 

  1. Senantiasa menjaga postur tubuh agar sesuai ergonomi. Hindari terlalu lama “nunduk, bungkuk, dan duduk”. Ketika duduk di meja kerja:
  • Kedua telapak kaki menapak di lantai
  • Antara betis dan paha membentuk sudut sekitar 90°
  • Antara paha dan tubuh membentuk sudut sekitar 90°
  • Punggung bersandar penuh
  • Lengan atas dan lengan bawah membentuk sudut 90°

2. Latihan alias olahraga. Otot dan sendi perlu dilatih secara teratur agar kuat dan lentur. 

3. Dengarkan suara tubuh. Ketika ada keluhan walaupun sepele, secepatnya beri perhatian dan bereskan. Banyak kasus menjadi parah, berujung pada kecacatan ketika keluhan sepele dibiarkan berlanjut. Segera konsultasi ke tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat

4. Cek kesehatan secara berkala

Sebagai penutup rangkaian Syukuran 54 Tahun Sonora, dr. Billy, SpKFR dari Eka Hospital mengajak peserta untuk latihan otot dan sendi sederhana yang mudah dilakukan di tempat kerja. Video selengkapnya dapat ditonton di  https://kognisi.mykg.id/. 

Selain itu, bagi Warga KG yang ingin mendapatkan pemahaman dan penanganan yang sesuai dengan kondisi saat ini, konsultasi dengan dokter spesialis menjadi salah satu langkah penting.

dr. Billy Ng, Sp.KFR  saat ini juga melayani konsultasi di Eka Hospital Permata Hijau sebagai salah satu pilihan bagi anda yang membutuhkan penanganan terkait fungsi gerak dan rehabilitasi.