Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Ini Bahaya Virus Nipah yang Perlu Diwaspadai

Perubahan lingkungan termasuk penggundulan hutan dan peningkatan kontak manusia-hewan liar memperbesar kemungkinan penularan berbagai penyakit yang bersumber dari hewan liar, termasuk kelelawar. Transportasi modern mempermudah penularan antar manusia. Maraknya kasus infeksi virus Nipah di India dan Bangladesh tidak luput dari berbagai faktor tersebut. Virus Nipah sebenarnya secara alami ada dalam tubuh kelelawar buah tanpa menimbulkan penyakit bagi kelelawar tersebut. Virus Nipah yang berpindah ke buah, hewan lainnya, benda, dapat masuk ke tubuh manusia jika termakan atau melalui kontak langsung. Orang terinfeksi dan bisa jadi penyakit. Jalur utama penularan dianggap melalui konsumsi buah atau sari pohon yang terkontaminasi kelelawar dan kontak dengan hewan terinfeksi termasuk dengan cairan tubuhnya. Penularan dari orang ke orang bisa terjadi tapi tidak semudah COVID-19.

Gejala Infeksi Virus Nipah

Gejala awal mulai muncul setelah 3 - 14 hari, bisa mencapai 45 hari sejak terinfeksi, meliputi demam, sakit kepala, diikuti:

  • gangguan pernapasan
  • batuk, sakit tenggorokan
  • mual, muntah
  • nyeri otot dan kelemahan yang parah.

Pada kasus parah, infeksi menjalar sampai otak dan menjadi radang otak (ensefalitis) yang bisa berujung pada kematian.

Gejalanya: kebingungan, disorientasi, bicara tidak jelas (pelo), kelemahan anggota gerak, gangguan kepribadian, kejang, koma, distres pernapasan.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, tingkat fatalitas sekitar 40-75%. Tingkat fatalitas berbeda-beda tergantung pada penanganan, area atau negara, strain virus, dan sistem imun penderita. Masih belum diketahui jelas mengapa ada yang mengalami parah hingga meninggal, sementara lainnya hanya ringan, bahkan tidak bergejala. Sekelompok orang bahkan baru bergejala dalam hitungan bulan atau tahun setelah terpapar virus. Pada sekelompok kecil penyintas, gejala radang otak bisa kembali relaps alias terkena radang otak lagi. Dalam lamannya, WHO menyebutkan 1 dari 5 penyintas akan mengalami gangguan neurologis di kemudian hari.

Pengobatan

Sampai saat ini belum ditemukan antivirus dan vaksin virus Nipah. Peneliti Australia sedang mengembangkan antibodi monoklonal m102.4 yang mampu menetralisir virus Nipah. Penelitian ini telah menjalani uji klinis fase 1 dan telah diterbitkan di The Lancet Infectious Diseases, April 2020.

Pengobatan diberikan sesuai gejala, menjaga hidrasi, nutrisi, istirahat. Pada kasus parah akan diberikan oksigen, alat bantu napas, bahkan cuci darah sesuai dengan perkembangan penyakit.

Pencegahan

Upaya diarahkan pada beberapa aspek yaitu mencegah paparan virus, menjaga imun tubuh, serta menjaga lingkungan.

  1. Hindari konsumsi air nira segar. Kontaminasi dapat terjadi melalui kelelawar.
  2. Cuci dan kupas buah.
  3. Buang buah dengan tanda bekas gigitan hewan. Liur hewan terinfeksi dapat menyerap masuk jauh ke dalam buah melampaui bekas gigitannya.
  4. Pastikan hanya konsumsi daging hewan yang dimasak matang.
  5. Hindari kontak dengan hewan, manusia yang terinfeksi, termasuk kontak dengan cairan tubuh (liur, droplet, darah, urine, tinja, dll). Bila terpaksa, terapkan protokol kesehatan. Bagi nakes, terapkan protokol Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
  6. Bagi peternak, cegah kontak ternak dengan hewan lain terutama kelelawar dan buah yang telah digigit kelelawar. Gunakan alat pelindung ketika berkontak dengan ternak.
  7. Jaga kebersihan lingkungan.
  8. Menjaga imun tubuh dengan menjalankan gaya hidup sehat:
  • makan yang bergizi lengkap dan seimbang
  • hidup aktif dan rutin olahraga
  • cukup tidur
  • kelola stres dengan bijak.

 

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia