Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Kehebohan Abu Vulkanik Sudah Reda, Tapi Bukan Berarti Sudah Pasti Aman

Kehebohan debu abu vulkanik sudah mereda. Tapi belum berarti kualitas udara otomatis langsung reset ke green flags! Debu yang kamu lihat pake mata telanjang itu partikel yang gede dan berat. Jadi cepat mendarat dan bertumpuk di permukaan seperti halaman, atap rumah, kendaraan, pepohonan. Fakta pahitnya, debu abu vulkanik memiliki berbagai jenis ukuran. Debu yang super halus bakal tetap melayang-layang manis di udara, awet, dan bisa terbang jauh banget naik kendaraan yaitu angin.

Udah paham, kan, kalau debu abu vulkanik beda derajat sama debu polusi biasa. Abu vulkanik lebih kejam karena isinya pecahan batu, silika, dan diselimuti gas asam. Silika itu mineral alami yang keras, bertepi tajam, abrasif. Silika dipake buat bahan dasar kaca, keramik, semen, silica gel (gel untuk menyerap kelembaban).

Bisa jadi apa ke tubuh?

  • Kulit. Kalau abu vulkanik kena kulit, bisa bikin kulit gatal-gatal, iritasi. Makanya tetap pakai pakaian tertutup, termasuk nutup kepala dan kaki waktu ada di outdoor. Pas pulang, Buka jaket dan topi di luar rumah, segera mandi, dan ganti pakaian bersih. Kulit keburu kena? Jangan digosok, apalagi digaruk! Bilas pake air mengalir, cuci dengan sabun. Bila perlu, boleh nambah bedak anti gatal seperti bedak calamine.
  • Mata. Buat yang sering naik motor atau sering ada di outdoor, pasti ngerasain kalau mata merah, perih, berair, sensitif, terasa ada yang ganjal. Kadang ditambah dengan belek alias kotoran mata. Kelilipan? Pantang banget dikucek, baret nanti kornea kamu! Bilas dengan air mengalir.
  • Saluran napas. Iritasi hidung dan tenggorokan, terasa perih, panas, gatal, dan batuk kering. Bisa timbul sesak terutama kalau ada riwayat asma, alergi, atau gangguan pada saluran napas. Caranya biar ga jadi masalah: bilas hidung dengan cairan NaCl 0,9% alias air infus. Kumur-kumur dengan air garam. Terus minum air putih hangat yang lebih banyak dari biasanya.
  • Saluran cerna. Abu vulkanik bisa ketelen lewat makanan/minuman yang dijual outdoor dan nggak ditutup, cuci sayur dan buah yang kurang bersih, atau tangan yang langsung nyomot tanpa cuci tangan. Kalau yang ditelan banyak, kamu lagi lemah imunnya, atau emang punya riwayat masalah di saluran cerna maka bisa jadi kamu muntah, sakit perut, atau pup berdarah. 

Seram sekali, ya? Ingat, paparan debu abu vulkanik bukan berarti pasti akan timbul semua keadaan di atas! Paparan meningkatkan risiko kena masalah itu. Jadi masalah atau nggak tergantung banyak hal:

  • kondisi kesehatan umum, sistem imun, dan organ orang tersebut
  • berapa banyak dan partikel jenis apa yang masuk
  • apakah timbul baret atau luka gores, berapa banyak, berapa dalam, berapa luas luka gores tersebut
  • apakah luka meninggalkan bekas luka atau jaringan parut serta letaknya.
  • bagaimana pertolongan pertama yang dilakukan.

Sampai kapan begini?

Menurut penjelasan Dr. Sukamto Koesnoe selaku Wakil Ketua Umum I PB PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia), bahaya kesehatan gegara abu vulkanik tidak langsung hilang begitu erupsi kelar. Bahaya tetap mengintai dalam hitungan hari hingga minggu karena ada proses resuspension alias partikel super halus PM10 dan PM2,5 beterbangan kembali akibat embusan angin, lalu lalang kendaraan, orang, menyapu kering.

Nah, ternyata pernah ada tim yang dipimpin oleh Yu Qian Zhu di jurnal Nature Communications meneliti tentang hal ini dan dipublikasikan di https://www.nature.com/articles/s41467-020-18352-5.

Hasilnya, partikel abu vulkanik super halus bisa bertahan sampai lebih dari 3 bulan di atmosfer atas (lapisan stratosfer), khusus kasus erupsi Gunung Kelud dan bisa sampai satu tahun pada kasus gunung lain dengan karakter letusan serupa.

Jangan kendor jaga diri walau udah nggak heboh. Polusi lain juga masih belum beres, kan! Jangan ragu konsul ke nakes juga, ya. Stay safe and stay educated, guys!

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia

 

Sumber foto: ANTARA FOTO