Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Ketika Gaya Hidup Diukur dengan Angka Laboratorium

Perhelatan yang digelar oleh FU and KG PRO Fit and Friendly Competition meliputi pertandingan persahabatan 7 cabang olahraga antar unit, cek kesehatan meliputi berbagai pemeriksaan, seminar kesehatan, dan berbagai aktivitas lain seperti kegiatan di WA Group dan media sosial lainnya. Rangkaian acara berjalan lancar dengan support dari Eka Hospital.

Menjawab hasil pemeriksaan kesehatan yang telah dilaksanakan, Eka Hospital menghadirkan dr. Albert Sedjahtera, MRes, Sp.PD dari Eka Hospital BSD. Mengusung tema Sindrom Metabolik, dr. Albert memaparkan berbagai hal menarik yang sekaligus mengejutkan mengenai bayang-bayang Sindrom Metabolik dalam hidup sehari-hari karyawan. Artikel ini merupakan ringkasan dari seminar dan dapat disaksikan secara utuh di https://kognisi.mykg.id/learning/videos/3995. 

Terlihat dan merasa sehat, bukan garansi pasti bebas Sindrom Metabolik
Sindrom Metabolik bukanlah penyakit melainkan sekumpulan faktor risiko yang terjadi bersamaan dan meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, diabetes, dan perlemakan hati. Disebut S. Metabolik jika ada 3 atau lebih dari 5 kriteria:
1. Tekanan darah: ≥ 130/85 mmHg 
2. Gula darah puasa: ≥ 100 mg/dL 
3. Trigliserida: ≥ 150 mg/dL atau sedang dalam pengobatan 
4. Kolesterol HDL: < 40 mg/dL (pria), < 50 mg/dL (wanita)
5. Lingkar pinggang: > 90 cm (pria),  > 80 cm (wanita).
Hampir semua faktor tersebut berkembang dalam tubuh tanpa memberi sinyal yang jelas alias silent killer. Itulah sebabnya mengapa banyak peserta yang merasa tidak ada keluhan tapi ternyata mengalami Sindrom Metabolik.

Tidak ada keluhan bukan berarti boleh dibiarkan
Walaupun dalam Sindrom Metabolik belum ditegakkan diagnosis penyakit, pembiaran kondisi tersebut berpotensi menyebabkan: 
1. Hipertensi. Peningkatan tekanan darah dalam penggolongan S. Metabolik belum dikategorikan hipertensi. Jika dibiarkan berpotensi menjadi hipertensi.
2. Diabetes. Pada S. Metabolik terjadi resistensi insulin yang ditandai dengan meningkatnya gula darah tapi belum setinggi pada diabetes. Jika tidak dilakukan intervensi berupa perubahan gaya hidup dan obat jika diperlukan, maka resistensi insulin bisa berkembang menjadi diabetes. 
3. Perlemakan hati. Lingkar perut dan lemak yang ada di dalam darah (kolesterol jahat), dan juga resistensi insulin akan meningkatkan risiko terjadinya perlemakan hati.
4. Terbentuknya plak di dinding dalam pembuluh darah. Plak bisa semakin menebal dan akhirnya menjadi sumbatan. Penyakit yang terjadi tergantung letak sumbatan. Jika sumbatan terjadi di pembuluh darah otak, maka terjadi stroke, di jantung, jadi serangan jantung. 

Padamkan bara api sebelum terbakar
Berita baiknya adalah hampir semua kondisi dalam S. Metabolik dapat diperbaiki dengan cara yang relatif mudah.
1. Atur pola makan agar sehat dan seimbang. Sesuai panduan dari Kemenkes, makanlah dengan komposisi: 2/6 karbohidrat, 2/6 sayur, ⅙ protein, ⅙ buah.
2. Rutin olahraga seminggu 150 menit yang terbagi menjadi 3-5 sesi. Mencakup aerobik dan resistance training. 
3. Kelola stres misalnya dengan meditasi, yoga, atau menjalankan hobi.
4. Tidur yang cukup (7-9 jam) dan berkualitas.
5. Menghindari kebiasaan buruk: merokok dan konsumsi alkohol secara berlebihan.
6. Pemeriksaan kesehatan tahunan yang rutin.

Mari perbaiki sejak dini
Sindrom Metabolik umum terjadi, sering tanpa gejala sehingga tidak terdiagnosis. Berbagai peningkatan risiko: stroke, diabetes, hipertensi, perlemakan hati dapat dicegah dengan gaya hidup sehat. Deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan rutin penting untuk mencegah komplikasi. 

Sebagai penutup, dr. Albert Sedjahtera, MRes, Sp.PD menegaskan bahwa pilihan masa depan berada di tangan kita sekarang. 

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia