Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Lindungi Diri dari Abu Vulkanik

Gunung Anak Krakatau sejak 2 Juli 2026 kembali aktif meletus. Eskalasi erupsi semakin meningkat hingga pada malam hari tanggal 4 September 2026 sampai dini hari 5 September 2026, getaran dan dentuman akibat erupsi mencapai kawasan Bandung Raya.

Abu vulkanik akibat erupsi gunung melayang di udara, terbawa angin, dan mencapai wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan perairan di sekitarnya.

Kehadiran abu vulkanik ini memperparah krisis kualitas udara, khususnya di area yang terdampak. Berdasarkan hasil survei Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) tahun 2019, salah satu dari 10 penyakit terbanyak di Indonesia adalah penyakit pernapasan. Polusi udara sangat mempengaruhi kesehatan saluran pernapasan. Dari analisa yang dilakukan Kemenkes, polusi menjadi penyebab paling dominan, antara 28-37% dari 3 penyakit pada saluran napas yaitu pneumonia, ISPA, dan asma. Penurunan kualitas udara dinyatakan sebagai faktor risiko kematian tertinggi ke 5 di Indonesia setelah hipertensi, diabetes, merokok, dan obesitas.

Pemerintah Indonesia melalui Kemenkes melakukan edukasi masyarakat untuk tindakan pencegahan gangguan kesehatan terkait polusi udara yaitu 6M dan 1S:

  • Memeriksa kualitas udara melalui aplikasi/website
  • Mengurangi aktivitas luar ruangan, menutup ventilasi rumah/kantor/sekolah/tempat umum di saat polusi udara tinggi
  • Menggunakan penjernih udara dalam ruangan
  • Menghindari sumber polusi dan asap rokok
  • Mengenakan masker saat polusi udara tinggi
  • Melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
  • Segera konsultasi dengan nakes ketika muncul keluhan pernapasan

Abu vulkanik adalah hancuran batuan mineral dan pecahan kaca silika yang bersifat tajam, keras, dan korosif. Jadi protokol polusi biasa perlu dilengkapi dengan langkah pencegahan spesifik. 

  1. Pantau informasi resmi dari pemerintah dan ikuti arahannya
  2. Hindari berada di luar ruangan terutama kelompok rentan
  3. Tutup pintu dan jendela
  4. Gunakan penjernih udara (air purifier)
  5. Tutup rapat tandon air, sumur terbuka, atau penampungan air hujan
  6. Jika terpaksa keluar ruangan:

Kenakan goggles (kacamata pelindung medis), kacamata renang, atau kacamata untuk mencegah kelilipan atau iritasi mata. Hindari penggunaan lensa kontak. Partikel abu vulkanik bersifat tajam. Jika terselip di bawah lensa kontak maka bisa menggores kornea. Goresan ini permanen dan bisa menimbulkan infeksi hingga kebutaan.  

Bilas mata dengan air mengalir jika kelilipan. Jangan menggosok mata. 

Kenakan masker respirator standar N95 atau KN95. Masker kain atau masker bedah biasa tidak cukup untuk menyaring partikel debu yang sangat halus. Jika tidak tersedia masker respirator, tetap kenakan masker medis atau masker kain yang ada. Membasahi kain atau handuk bisa menambah lapisan proteksi, tapi jangan basahi masker medis. Untuk pecinta lingkungan dan tidak ingin menambah sampah plastik, dapat menggunakan masker kain dengan menambah lapisan filter PM2,5 karbon aktif. Ingat, masker yang paling baik untuk menyaring debu adalah masker standar N95, KN95.

Kenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh, pakaian lengan panjang, bawahan panjang, sepatu tertutup, topi/penutup kepala.

  1. Sebelum membersihkan abu di atap dan halaman, kenakan sarung tangan, masker, dan kacamata. Sapu debu tebal secara perlahan. Baru semprot sisa abu tipis dengan air. Menyiram abu tebal langsung dengan air akan membentuk lumpur berat yang mampu meruntuhkan atap.
  2. Segera ganti pakaian setelah berada di luar ruangan. Jika terkena debu abu vulkanik, bilas kulit dan rambut dulu sebelum menggunakan sabun dan shampo.
  3. Cuci sayur dan buah dengan air mengalir sambil digosok perlahan. 

 

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia