Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Mengenal Virus Bundibugyo, Saudara Virus Ebola

Dunia kembali dikejutkan dengan berita bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 17 Mei 2026 secara resmi menetapkan lonjakan kasus virus Bundibugyo di Afrika sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional atau status darurat global. Status ini diberlakukan terkait kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo. Tidak perlu panik karena ini masih belum dikategorikan sebagai pandemi. Dilaporkan bahwa wabah di RD Kongo disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo. Tercatat telah 246 kasus suspek di mana 8 di antaranya merupakan kasus terkonfirmasi dan 80 penderita meninggal, dengan angka kematian sementara mencapai 32,5%. Kasus juga dilaporkan meluas ke Kampala, Uganda, dan Kinshasa mengingat mobilitas penduduk yang tinggi dan terbatasnya fasilitas kesehatan.

Berita ini lalu direspons oleh Kemenkes dengan meningkatkan kewaspadaan melalui pengetatan pengawasan di seluruh pintu masuk negara, seperti bandara dan pelabuhan, memberlakukan sistem pelaporan dan kesiapsiagaan fasilitas, diikuti anjuran pemantauan mandiri selama 21 hari untuk orang yang pulang dari bepergian terutama rute internasional. Sampai tanggal 19 Mei 2026, Kemenkes memastikan belum ada kasus Ebola di Indonesia.

Apa itu Penyakit Ebola?

Penyakit Ebola adalah penyakit yang disebabkan oleh Orthoebolavirus, sebuah payung besar di mana ada 3 jenis virus utama yang dapat menyerang dan mematikan bagi manusia: virus Zaire (Ebola klasik), virus Sudan, dan virus Bundibugyo. Ketiga jenis virus tersebut menyebabkan penyakit Ebola.

Masa inkubasi ketiga virus ini adalah 2-21 hari. Selama masa inkubasi orang yang terinfeksi merasa sehat, terlihat sehat, dan tidak dapat menularkan virus kepada orang lain.

Masa penularan dimulai sejak gejala timbul. Uniknya, ketiga virus mempunyai kemampuan untuk sembunyi di beberapa tempat dalam tubuh seperti di cairan bola mata, di testis (sehingga dapat keluar melalui cairan semen, cairan ejakulasi), air susu ibu, dan cairan dalam otak dan sistem saraf tulang belakang. Virus ini bisa tetap sembunyi dan tetap berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan dan penularan bahkan ketika orang tersebut sudah dinyatakan sembuh.

Virus ini sebenarnya berawal dari penyebaran antar hewan liar seperti kelelawar buah atau primata. Manusia dapat tertular ketika berkontak dengan hewan yang terinfeksi tersebut, terkena cairan tubuhnya. Karena dapat menular antar manusia maka penyakit Ebola meluas antar manusia. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti darah, air liur, atau muntahan penderita penyakit Ebola. Virus dapat masuk melalui selaput lendir terutama mata, hidung, mulut, atau kulit yang terbuka misalnya kulit yang terluka.

Gejala-gejala

Virus Bundibugyo yang sekarang ini menjadi masalah di beberapa negara sebetulnya memberikan gejala yang sama dengan Ebola klasik. Walaupun jenis virusnya tidak sama, virus Zaire dan virus Bundibugyo berada pada payung besar yang sama. Infeksi virus ini merusak sistem imun dan organ tubuh.

Gejala awal dimulai dengan demam tinggi mendadak, rasa lemas dan nyeri otot yang hebat, dan sakit kepala. Kemudian akan berkembang menjadi muntah-muntah, diare, terjadi perdarahan (di bawah kulit: ruam seperti demam berdarah dengue, perdarahan gusi, saluran cerna, dan perdarahan di organ lainnya). Lalu diikuti dengan penurunan fungsi ginjal dan hati.

Sayangnya, tidak seperti Ebola klasik atau virus Zaire, pengobatan dan vaksin khusus untuk Bundibugyo masih belum ada.

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia