Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Olahraga dan Pola Makan, Sinergi atau Substitusi?

Belakangan ini olahraga jadi hype. Bagus banget tren gini. Gym, lapangan padel cozy, sampe area lari digandrungi, padat sama yang FOMO. Olahraga itu flexing terbaik buat kesehatan fisik dan mental. Tapi tolong dicatat: olahraga itu BUKAN mata uang pelunas harga pola makan toxic.

Olahraga bisa jadi rem darurat buat damage control biar kerusakan organ dalam jadi minimal. Tapi bukan tombol delete yang bisa undo otomatis. Dampak buruk makanan nggak sehat nggak bisa lunas sepenuhnya dibayar pakai olahraga, segampang geser scan QR di kasir minimarket.

Sel tubuhmu kelaparan walaupun perutmu kekenyangan.

Kardio bisa bakar kalori, buang sisa gula, nurunin kolesterol dan asam urat sesaat. Tapi tubuh bukan cuma sekadar hitungan matematika kalori masuk minus kalori keluar. Ngisi perut itu sama kayak isi bensin buat motor/mobil. Tujuannya buat ngasih bahan baku biar fisik dan psikis berfungsi normal.

Mau rajin olahraga kayak gimana pun, nggak bakalan bisa memanifestasikan nutrisi dan hidrasi secara gaib. Protein, karbo, lemak baik, serat, vitamin, mineral, dan antioksidan harus masuk lewat satu pintu, mulut. Olahraga nggak bisa sulap semuanya tetiba ada dalam tubuh lewat jalur otot, tanpa lewat mulut.

Tidak semua bisa di-undo dengan olahraga

Olahraga nggak akan mampu menetralkan semua lemak trans yang kamu telan. Sedikit di daging, sedikit di susu, di gorengan, keripik, fast food.

Belum lagi zat kimia di makanan nggak sehat:

  • Pengawet biar nggak cepet basi, tengik.
  • Pewarna biar sesuai rasa, bayangin kalau susu rasa coklat tapi warnanya tetap putih, nggak klop!
  • Perisa atau flavoring, misalnya susu coklat ditambahkan aroma coklat.
  • Pengenyal, bikin bakso, sosis bisa ngelawan kalau digigit.
  • Anti kempal di berbagai produk berbentuk serbuk biar nggak menggumpal karena kelembaban.
  • Zat lainnya: garam, micin, karsinogen, mikroplastik, dan sederet bahan kimia lain.

Tiap produk bernomor BPOM dipastikan tidak melewati batas aman dari setiap bahan kimia. Tapi kalau ditabung tiap kali makan, ngemil, jajan, tiap hari? Konsepnya mirip arisan racun. Lama-lama bertumpuk membentuk bom waktu, siap meledak jadi stroke atau serangan jantung.

Efek peradangan kronis, dinding usus bocor halus, keseimbangan bakteri baik usus terganggu, sel imun jadi impoten, sampai hormon berantakan itu baru sedikit dari berbagai konsekuensi makan nggak sehat yang bakal bikin bom waktu makin dahsyat.

Sinergi, bukan substitusi

Olahraga itu hukumnya wajib, tapi konsumsi makanan sehat juga nggak bisa dinegosiasi. Dua-duanya harus jalan bareng sebagai sinergi, bukan substitusi.

  1. Semakin dekat makanan ke alam, semakin sehat. Semakin banyak campur tangan mesin dan zat kimia, biasanya (walau tidak selalu), semakin kurang sehat.
  • Versi terbaik, makanan utuh yang masih terlihat bentuk asli misalnya jagung rebus.
  • Versi baik, makanan yang diolah minimal seperti popcorn jagung.
  • Versi buruk, bentuk natural tidak terlihat lagi, tidak bisa dikenali, ditambahkan zat kimia di pabrik, misalnya keripik jagung.

2. Pakai hukum 80/20, konsumsi 80% yang real food, bergizi lengkap, seimbang dan 20% sisanya makanan rekreasi yang menyenangkan.

3. Perhatikan porsi dan komposisi nutrisi.

Pilih nggak cuma asal kenyang dan senang tapi buat investasi kesehatan kamu. Ini bukan investasi pribadi, tapi investasi sosial. Karena kalau kamu sakit, yang susah nggak cuma kamu tapi semua orang di sekeliling kamu.

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia