Polutan dapat berbentuk:
- zat padat misalnya materi partikulat dalam PM 2,5, PM 10
- gas seperti sulfur dioksida, nitrogen dioksida, ozon permukaan
- cairan seperti aerosol, uap atau droplet bahan kimia.
Ketika berada dalam area polusi udara tinggi, maka berbagai polutan tersebut bisa lolos dari saringan bulu hidung dan mukosa lendir. Polutan masuk ke saluran napas yang lebih dalam. Tubuh akan merasa terancam dan memberi respons batuk agar polutan terlontar keluar.
Gejala
Batuk karena polutan memiliki ciri khas.
- Batuk kering. Biasanya tidak ada lendir/dahak. Dipicu rasa gatal di tenggorokan yang tak kunjung hilang.
- Tenggorokan terasa kering, panas, seperti terbakar, perih, terutama setelah berada di area berpolusi tinggi misalnya jalan raya yang ramai.
- Suhu tubuh normal, tidak ada demam, meriang, menggigil.
- Nyeri atau dada terasa kencang karena otot dada dipaksa bekerja keras untuk batuk. Tidak gejala lain seperti nyeri sendi, sakit kepala, sesak napas, dll.
- Sifatnya situasional. Batuk menjadi-jadi ketika berada di area berpolusi dan berangsur membaik ketika udara bersih misalnya masuk dalam ruangan.
Pengobatan
Batuk karena polusi sama sekali tidak membutuhkan antivirus atau antibiotika. Kecuali jika ada infeksi sekunder, artinya diawali dengan batuk karena polusi, kemudian virus dan bakteri masuk dan menyebabkan reaksi peradangan.
Hidrasi agresif dengan minum air putih hangat dalam jumlah banyak untuk membantu membilas sisa-sisa polutan yang menempel di dinding tenggorokan, juga untuk menjaga kelembaban mukosa lendir sehingga dapat bekerja lebih optimal.
Cuci hidung dengan cairan saline atau lebih dikenal sebagai air infus. Selalu gunakan air saline steril, jangan air keran. Kumur air garam. Kedua hal ini membantu membilas polutan, membantu meredakan reaksi peradangan, dan mencegah infeksi sekunder.
Obat-obatan penekan batuk (antitusif) seperti dextromethorphan, anti alergi seperti loratadine, cetirizine jika batuk dipicu reaksi alergi terhadap polutan, dan obat pelega napas (bronkodilator) mungkin diperlukan jika muncul penyempitan saluran napas atau mengi.
Menghindari atau membatasi paparan polutan. Berada dalam ruangan dengan udara bersih, menggunakan air purifier, menggunakan masker saat berada di area berpolusi, berhenti merokok.
Konsultasi ke tenaga kesehatan untuk pengobatan lebih lanjut.
Kesimpulan
Mengatasi polusi udara memang tantangan besar yang perlu dijawab oleh pemerintah dan rakyat Indonesia. Pasif menunggu sama artinya dengan kehancuran dan penyakit.
Yuk, lebih peduli dengan lingkungan hidup dan sayang kesehatan.
Melindungi diri sendiri merupakan upaya yang bisa dilakukan secara mandiri, setidaknya dengan beberapa hal yang sudah disebutkan di atas.