Sadar, nggak? Apa yang nggak kelihatan belum tentu nggak ada. Sesimpel ada yang buang angin, tidak terlihat tapi ada, kan? Bukti tidak selalu jelas, tergantung level bau dan sensitivitas hidung orang di sekitar gas itu! Begitu juga dengan polusi udara.
Jelas terlihat kalau partikel polutannya padat dan gede. Kalau polutannya gas, bisa ketahuan kalau beraroma misalnya bau bakaran, knalpot mikrolet. Tapi kalau partikel padatnya super kecil dan gas yang beredar nggak beraroma, maka keberadaannya dalam udara bakal susah ketauan, kecuali ngintip di aplikasi seperti IQAir AirVisual.
Cara gampang ‘melihat’ polusi udara
Ini cara gampang buat partikel padat yang gede. Untuk PM2,5 yang super kecil, dan untuk gas, nggak kelihatan, tapi bukan nggak ada.
- Ambil selotip bening yang lebar (kayak lakban bening).
- Potong sekitar 10-15 cm.
- Tempel kedua ujungnya di area terbuka: halaman, teras, jendela yang menghadap ke jalanan. Posisi lem wajib menghadap keluar atau ke atas.
- Biarkan nongkrong selama 3-6 jam.
- Lalu ambil selotip, tempel di atas kertas atau yang permukaan berwarna gelap/hitam.
Semoga nggak shock liat ribuan partikel padat kecil yang nempel. Belum lagi yang super kecil dan tidak kasat mata. Udara bisa keliatan biasa apalagi kita udah jadi biasa kalau sering mengalami. Istilahnya habituasi.
Risikonya?
Gradasi risikonya luas, mulai dari iritasi saluran napas: hidung, pita suara, tenggorokan, batang dan cabang tenggorokan, sampai ke kantong udara di paru-paru. Naik level ke inflamasi, infeksi. Iritasi yang terus terjadi merusak lapisan lendir pelindung saluran napas. Ibarat gelar karpet merah buat bakteri atau virus. Penyakitnya tergantung di mana mereka nongkrong, nama kerennya ISPA (Infeksi Saluran Napas Akut), bisa sinusitis, faringitis, bronkitis, sampe pneumonia.
Lama kelamaan, paru rusak permanen, jadi PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis). Paling gong ketika partikel super halus, PM2,5 lolos dari kantung udara (alveolus) paru ke dalam darah, beredar ke seluruh tubuh, dan bisa pancing penyakit.
Terus harus pasrah?
Urusan polusi itu ruwet, dari pemerintah, dokter, polisi, sampe politisi harus terlibat. Terus kamu jadi hopeless dan pasrah? Jangan dong! Masih ada hukum “at least”.
- Sebisanya stay indoor.
- Kondisikan rumah jadi minim polusi udara.
- Tutup pintu dan jendela pas kualitas udara jelek.
- Cuci kipas angin dan AC rutin.
- Seminggu sekali ganti sprei.
- Bersihkan tirai jendela, divakum, minimal pake kemoceng seminggu sekali dan cuci 3 bulan sekali.
- Hindari polusi indoor: asap rokok, goreng makanan, atau barbekyu.
- Hindari spray rambut atau pengharum ruangan.
- Pasang air purifier kalau ada.
3. Kalau mau ke outdoor:
- Pantau dulu kualitas udara.
- Pakai masker kalau polusi lagi tinggi.
- Sebisanya menghindar dari jalanan ramai kendaraan dan macet,
4. Kondisikan tubuh yang sakti:
- Makan yang benar, tidur cukup, olahraga rutin, dan nggak usah banyak stres.
- Minum jangan tunggu haus!
- Makan buah, sayur yang kaya antioksidan, anti inflamasi, biar bantu imun lebih optimal lawan virus, bakteri. Nggak usah nanya makan apa! Makan minimal 5 warna sayur dan buah sehari, 2-3 porsi buah dan 3-4 porsi sayur.
Sama seperti polusi yang nggak selalu kelihatan sama mata, kesaktian tubuh kamu juga begitu. Jaga dia walaupun yang terjadi di dalamnya nggak kelihatan, tapi dia bertempur menggempur polusi buat kamu.