Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Sudah Diet dan Olahraga, Kok BB Masih Stuck?

Ketika sedang dalam program menurunkan berat badan, kita sering sampai pada fase di mana berat badan tidak turun lagi. Fase ini dikenal sebagai fase plateau. Seberapa cepat fase ini berlalu tergantung pada banyak faktor seperti perubahan metabolisme dan gaya hidup.

Metabolisme bisa dipengaruhi oleh gen, gender, usia, hormon stres, estrogen, progesteron, massa otot, gaya hidup, atau penyakit. Selain itu, sebagai mekanisme bertahan hidup, tubuh juga akan melakukan adaptasi terhadap berkurangnya asupan kalori baik karena pola makan maupun karena olahraga.

Tubuh tidak bisa membedakan berkurangnya asupan kalori ini terjadi karena disengaja untuk menurunkan berat badan atau terjadi karena mengalami krisis yang tidak terhindarkan misalnya bahan pangan yang langka. Maka tubuh berusaha untuk “menghemat” agar sisa kalori yang ada dapat mencukupi kebutuhan dengan cara menurunkan metabolisme.

Ini bisa diatasi dengan beberapa trik:

  1. Tingkatkan metabolisme dengan minum green tea, kafein, atau makan cabai. Cukup minum misalnya air putih, infused water, teh atau kopi tawar, kuah sayur, dll. Kecukupan hidrasi berperan penting dalam menjaga metabolisme.
  2. Evaluasi porsi protein. Protein sangat baik untuk menjaga massa otot saat diet, meningkatkan metabolisme melalui proses pencernaannya, dan membantu mengatur rasa kenyang. Tapi jika asupan protein berlebih, maka tubuh tidak mampu menyimpannya sebagai otot baru. Otomatis sisa protein akan diubah dan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk lemak.
  3. Evaluasi asupan karbohidrat. Waspadai jumlahnya, jangan sampai kurang atau berlebih. Perhatikan jenis karbohidrat. Hindari karbohidrat sederhana dan beralih ke karbohidrat kompleks.
  4. Evaluasi calorie intake yang sering terabaikan seperti camilan, gorengan, keripik, kerupuk, minuman manis, kecap manis, saus, salad dressing.
  5. Cek ulang kandungan natrium atau sodium dalam garam, micin, penyedap rasa, soda kue, baking soda, pengawet makanan, makanan olahan, keju, dll. Sodium berlebihan akan menyebabkan retensi air. Tubuh jadi “bengkak” karena air ditahan sebagai kompensasi untuk menjaga keseimbangan garam dalam tubuh
  6. Makan probiotik alias bakteri baik dan prebiotik atau makanan untuk probiotik. Keseimbangan bakteri dalam usus mempengaruhi nafsu makan, pilihan makan, dan mood kita.
  7. Tambahkan olahraga yang bersifat anaerobik atau latihan beban.
  8. Coba untuk hidup lebih aktif, lebih banyak jalan atau naik turun tangga. Atau aktivitas bebersih ruangan atau rumah. Selain terjadi pembakaran kalori, tindakan membersihkan rumah, percaya atau tidak, akan membantu menenangkan jiwa dan menurunkan kadar stres. Ketika stres mereda, tubuh lebih rela melepas cadangan lemak untuk dibakar.
  9. Analisa kecukupan tidur secara kuantitas dan kualitas, serta tingkat stres. Kurang tidur dan stres membuat berbagai macam mekanisme yang menghambat BB turun.
  10. Intervensi hormon insulin dengan cara membuat keadaan mirip puasa misalnya makan malam lebih cepat satu jam dan makan pagi lebih lambat satu jam. Sejak makan malam selesai, tidak ada lagi kalori yang masuk sampai saat makan pagi.

 

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia