Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Superflu: Flu yang Lebih Menular, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?

Superflu bukan istilah medis melainkan istilah populer dalam masyarakat untuk virus Influenza A H3N2 subclade K yang menyebabkan penyakit influenza pada sistem pernapasan. Dalam klasifikasi genomik, superflu adalah J.2.4.1. 

Superflu pertama kali dideteksi di Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan kini dilaporkan telah menyebar ke lebih dari 80 negara. Di Indonesia, dideteksi sejak Agustus 2025 dan sudah ditemukan di 8 provinsi dengan total 62 kasus. 

Varian ini memiliki kemampuan penularan yang lebih tinggi, lebih agresif, dengan gejala yang lebih berat dibandingkan dengan influenza musiman biasa, terutama pada kelompok rentan yaitu bayi, anak-anak, ibu hamil, manula, orang dengan gangguan imun, minum obat penekan imun, dan berpenyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, paru, ginjal, kanker. Walaupun terdengar mengerikan, WHO menyatakan bahwa risiko kematian pada Superflu sama dengan flu biasa.

 

Penyebab Influenza

Influenza atau flu, disebabkan oleh 4 tipe virus:

  • Influenza A merupakan kasus tersering dijumpai dan dapat menyebabkan wabah: epidemi, pandemi. Biasanya lebih ringan dari influenza B tapi lebih cepat menular dan lebih cepat mengalami mutasi.
  • Influenza B lebih jarang dijumpai tapi biasanya menyebabkan gejala lebih berat. 
  • Influenza C biasanya ringan dan tidak berpotensi menyebabkan wabah.
  • Influenza D tidak menyerang manusia dan hanya menyerang hewan.

 

Umumnya orang sehat yang menderita Influenza akan sembuh sempurna dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu. Sebagian besar kasus flu dapat diobati sendiri di rumah dan tidak perlu perawatan di rumah sakit.  

Pada kelompok rentan, flu dapat menimbulkan komplikasi (radang paru, radang otak, sepsis, dll) yang bisa menjadi fatal dan menimbulkan kematian.

 

Gejala Superflu

Hampir sama dengan Influenza A tetapi seringkali lebih berat yaitu:

  • Sakit tenggorokan
  • Hidung berair atau hidung tersumbat 
  • Demam, biasanya demam tinggi
  • Batuk kering atau berdahak
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Rasa lelah, lemas
  • Berkeringat, menggigil

 

Upaya pencegahan

  1. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (mencuci tangan, tidak menyentuh wajah terutama hidung dan mulut dengan tangan yang kotor, memakai masker, membersihkan lingkungan, memperbaiki sirkulasi udara, dll)
  2. Menjaga imun tubuh dengan menjalankan gaya hidup sehat:
  • pola makan sehat,  bergizi seimbang
  • konsumsi makanan/minuman yang mengandung probiotik (kuman baik) seperti yogurt, kimchi, miso, tape, kombucha, susu kefir dan prebiotik (makanan bagi probiotik) seperti buah, sayuran
  • jaga hidrasi karena dehidrasi membuat lapisan mukosa saluran napas menjadi lebih kering, akibatnya kemampuan ‘menangkap virus’ menurun
  • menghindari kebiasaan minum antibiotik secara sembarangan. Antibiotik yang diminum, sekalipun sesuai indikasi dan tidak sembarangan, akan turut memusnahkan bakteri baik. Jumlah dan variasi bakteri baik dalam saluran cerna sangat berperan dalam sistem imun.
  • jaga kesehatan usus dengan menghindari atau membatasi konsumsi makanan/minuman olahan, mengandung bahan aditif seperti pengawet, pewarna, dll, yang terlalu manis, yang mengandung lemak jahat
  • olahraga teratur, hidup aktif
  • cukup tidur
  • kelola stres
  • tidak merokok dan minum alkohol
  • kelola penyakit yang diderita karena berbagai penyakit kronis apalagi bila tidak ditangani dengan baik akan menurunkan imun sehingga mudah tertular penyakit. Jika sedang sakit, agar virus tidak menyebar:
  • tinggallah dalam rumah
  • kenakan masker dan jaga jarak bila harus bertemu orang lain
  • terapkan etika batuk, bersin
  • tidak meludah, buang dahak atau ingus sembarangan.

3. Vaksinasi Influenza.

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia