Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Virus Ebola Tidak Menular Lewat Udara?

Trauma pandemi belum pudar dari ingatan. Kali ini dunia kesehatan internasional kembali dikejutkan dengan penetapan kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Keputusan ini diberikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 17 Mei 2026 dengan menimbang lonjakan kasus virus Bundibugyo di Afrika dan dilaporkan mulai meluas ke wilayah Kampala di Uganda akibat tingginya mobilitas penduduk.

Tidak perlu panik berlebihan dulu karena status ini belum merupakan pandemi. Kementerian Kesehatan RI telah mengambil beberapa langkah cepat yaitu memperketat pengawasan di seluruh bandara dan pelabuhan internasional, memberlakukan sistem pelaporan, dan kesiapsiagaan fasilitas, diikuti anjuran pemantauan mandiri selama 21 hari bagi yang pulang dari bepergian terutama rute internasional. Sampai tanggal 24 Mei 2026, Kemenkes memastikan belum ada Ebola di Indonesia.

Penyakit Ebola disebabkan oleh virus bergenus Orthoebolavirus. Dalam keluarga virus ini ada 4 jenis dari total 6 jenis, yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia yaitu virus Zaire yang terkenal sebagai penyebab penyakit Ebola klasik, virus Sudan, virus Taï Forest, dan virus Bundibugyo. Jenis yang sedang merebak di Kongo sekarang ini adalah Bundibugyo.

Keempat virus tersebut memberikan gejala klinis dan cara penularan yang hampir sama. Hanya saja, pada virus Zaire, vaksin dan pengobatan khusus sudah ada sementara untuk Bundibugyo belum ada.

Penularan

Virus Bundibugyo memang menular, tapi tidak semudah virus lainnya seperti flu, cacar air, atau COVID-19. Dia tidak menyebar lewat udara, jadi tidak menular ketika berpapasan di jalan atau berada dalam kendaraan umum yang sama.

Masa penularan terjadi sejak orang bergejala. Gejala muncul sesudah masa inkubasi, sekitar 2-21 hari. Setelah bergejala, pasien dapat menyebarkan virus melalui cairan tubuh seperti darah, air liur, muntahan, urine, tinja. Tidak hanya pasien, jenazah dan hewan terinfeksi dapat menyebarkan virus ini juga. Uniknya, masa menular pada manusia  dimulai sejak bergejala. Hewan reservoir alami, biasanya kelelawar buah, yang terinfeksi, tetap dalam keadaan sehat dan bisa menularkan.

Manusia dan primata lainnya, biasanya akan sakit setelah terinfeksi. Tetapi ada sekitar 25% yang terinfeksi yang tidak menunjukkan gejala atau hanya gejala hanya ringan saja.

Walaupun terinfeksi, jika jumlah virus yang masuk hanya sedikit, maka tidak menjadi penyakit. Virus dapat menginfeksi melalui:

  • kontak langsung virus dengan selaput lendir: mata, hidung, mulut, atau kulit terluka
  • kontak melalui objek misalnya jarum yang tercemar cairan tubuh pasien atau jenazah
  • berkontak dengan cairan tubuh misalnya darah dari daging atau makan daging mentah atau setengah matang dari hewan terinfeksi.

Virus masih bisa ditemukan di cairan bola mata, cairan semen, air susu ibu, dan cairan otak, walaupun pasien sudah dinyatakan sembuh. Virus ini tetap berpotensi menularkan penyakit.

Pencegahan

Walaupun masih belum masuk Indonesia, kemungkinan virus masuk, tidak dapat disingkirkan terkait dengan mobilitas penduduk. Risiko tidak sebesar COVID-19, tetapi tetap harus waspada.

Mencegah penularan virus Bundibugyo sebenarnya tidak terlalu sulit, sebagian besar terkait dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yaitu: 

  • cuci tangan dengan air dan sabun
  • jaga kebersihan lingkungan
  • hindari kontak langsung dengan orang sakit atau hewan liar seperti kelelawar buah
  • hindari konsumsi daging setengah matang atau mentah
  • tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dicuci.

Ketika sedang sakit, upayakan memutus rantai penularan ke orang lain dengan cara tetap berada di rumah. Jika terpaksa harus keluar:

  • terapkan etika batuk dan bersin
  • kenakan masker.

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia