Wellbeing Articles

Counseling

COUNSELING

Waspada Virus Nipah: Kenali Gejala, Jalur Penularan, dan Pencegahannya

Virus Nipah adalah virus yang dapat menular secara alami antara hewan vertebrata atau yang bertulang belakang ke vertebrata lain, termasuk ke manusia dan sebaliknya. Virus Nipah merupakan virus dari keluarga Paramyxoviridae, sekeluarga dengan virus penyebab gondongan dan campak. Virus Nipah pertama kali diidentifikasi di Malaysia pada tahun 1998 dan telah menyebabkan beberapa wabah. Virus ini terutama ditularkan oleh kelelawar buah. Kelelawar buah dapat memiliki virus tanpa menderita sakit.

Virus Nipah Di Indonesia

Virus Nipah umum dijumpai dalam habitat alami hewan liar di Asia, terutama India dan Bangladesh. Virus ini secara alamiah juga dijumpai pada kelelawar di Indonesia tapi belum dijumpai pada manusia di Indonesia. Strain virus Nipah yang ada di Indonesia dan Malaysia berbeda dengan strain di Bangladesh dan India. Kedua strain tersebut lebih dari 90% memiliki identitas genetik yang sama. Keduanya dapat menyebabkan penyakit tetapi dengan gejala serta tingkat kefatalan yang berbeda.

Strain NiV-M yang ada di Indonesia dan Malaysia dominan menyebabkan radang otak, sangat sedikit yang menyebabkan gangguan pada saluran napas. Sebagian besar gejala meliputi pusing, sakit kepala, disorientasi, kejang. Tingkat fatalitas (fatality rate) atau ukuran yang menunjukkan proporsi jumlah kematian akibat penyakit dibandingkan dengan total kasus yang dilaporkan, lebih rendah dari strain NiV-B, dan penularan dari manusia ke manusia dianggap jarang.

Strain NiV-B yang ada di India dan Bangladesh lebih dominan menyebabkan penyakit pada saluran napas, dengan gejala batuk parah, napas pendek, sesak napas. Strain ini juga berpotensi menyebabkan perubahan kesadaran. Tingkat fatalitas lebih tinggi, lebih berpotensi menyebabkan kematian daripada strain NiV-M. Penularan dari manusia ke manusia umum terjadi.

Jalur Penularan

Dari kelelawar buah, virus dapat menular ke manusia dan ke hewan vertebrata lain seperti babi, kucing, anjing, kuda, kambing, dan lainnya yang juga berpotensi menularkan kepada manusia. Penularan dari manusia ke manusia juga dapat terjadi.

Penularan dapat terjadi secara:

  • Kontak langsung dengan hewan atau manusia yang terinfeksi
  • Kontak tidak langsung dengan cairan tubuh (liur, urine, tinja, darah, droplet, cairan kelamin) dari hewan atau manusia yang terinfeksi
  • Kontak tidak langsung dengan pohon, benda misalnya tanah, yang telah tercemar dengan cairan tubuh hewan atau manusia yang terinfeksi
  • Makan buah atau sari pohon yang tercemar dengan cairan tubuh hewan atau manusia yang terinfeksi.

Perubahan lingkungan termasuk penggundulan hutan dan peningkatan kontak manusia dan hewan liar meningkatkan kemungkinan penularan berbagai penyakit yang bersumber dari hewan liar, termasuk kelelawar.

Upaya Pencegahan

Sampai saat ini, virus Nipah NiV-B masih belum ditemukan di Indonesia. Pemerintah telah membuat surat edaran terkait virus Nipah, https://kemkes.go.id/id/circular-letter-nipah-virus-alert, yang diterbitkan tanggal 30 Januari 2026. Tujuannya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi masuknya virus Nipah ke Indonesia. Instruksi diberikan untuk :

  • memperkuat surveilans penyakit menular
  • melaporkan segera bila dijumpai kasus suspek Nipah
  • menyiapkan laboratorium untuk pemeriksaan
  • melakukan edukasi kepada masyarakat.
     

Upaya pencegahan termasuk memberikan edukasi pada masyarakat agar dapat berperan aktif dengan:

  • Hindari konsumsi nira/aren langsung dari pohonnya karena dapat terjadi kontaminasi kelelawar pada malam hari, sehingga perlu dimasak sebelum dikonsumsi.
  • Cuci dan kupas buah secara menyeluruh.
  • Buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar.
  • Konsumsi daging ternak secara matang.
  • Menerapkan protokol kesehatan: cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer, etika batuk dan bersin, memakai masker bila bergejala, termasuk kelompok rentan.
  • Hindari kontak dengan hewan ternak (babi, kuda) yang kemungkinan terinfeksi virus Nipah, gunakan APD jika terpaksa harus berkontak.
  • Tenaga kesehatan, keluarga yang merawat, petugas laboratorium, menerapkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dengan benar.

 

Penulis: dr. Santi/Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia