Info KG

58 Tahun Kompas Berinovasi Menyatukan Teknologi dengan Hati

DEVIN AIRLANGGA

Dipublikasikan

Kemajuan teknologi adalah suatu fenomena yang tidak bisa dihindari dalam setiap lini kehidupan manusia. Teknologi akan berkembang dan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Manusia dituntut untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan saat ini menjadi salah satu fenomena yang cukup menarik perhatian banyak pihak. AI adalah kemampuan komputer atau robot yang dikendalikan oleh komputer untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh manusia dengan kecerdasannya. Saat ini ada banyak sektor pekerjaan yang telah memanfaatkan teknologi AI. Namun, masih banyak persepsi yang bermunculan apakah AI akan menjadi manfaat ataukah ancaman.

Berdasarkan fenomena Artificial Intelligence ini, Kompas merayakan ulang tahunnya yang ke-58 dengan mengangkat tema “Manusia dan Teknologi”. Pada koran edisi khusus 58 Tahun, Kompas mengangkat judul “Potensi Masa Depan yang Terbuka oleh AI” pada halaman utamanya. Momentum ini juga dirayakan dengan rangkaian kegiatan yang bermanfaat tidak hanya bagi karyawan Kompas, melainkan juga bagi masyarakat.

Webinar Teknologi dan Manusia

Dalam Rangka HUT ke-58, Kompas menyelenggarakan salah satu rangkaian acara Webinar Anugerah Cendekiawan Berdedikasi bertema “Teknologi, Sejarah, dan Masa Depan Manusia” pada sesi pertama dan “Kemajuan Teknologi, Humanisasi atau Dehumanisasi” pada sesi kedua di Ruang Cincin Api, Lt. 5, Menara Kompas.

Acara ini pada sesi pertama menghadirkan pembicara Peneliti Utama BRIN Asvi Warman Adam, Ahli Genetika Herawati Supolo-Sudoyo, dan Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Feri Fahrianto. Dimoderatori oleh Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas Haryo Damardono serta dihadiri Wakil Pemimpin Umum Kompas Budiman Tanuredjo Pemimpin Redaksi Kompas Sutta Dharmasaputra. 

Selain itu pada sesi kedua menghadirkan Pengajar senior Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Meuthia Ganie-Rochman, Cendekiawan Yudi Latif sebagai narasumber, dan Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas Tomy Trinugroho sebagai moderator. Webinar ini juga dihadiri oleh pembicara lain secara daring yaitu Anggy Eka Pratiwi, kandidat doktor Department of Computer Science and Engineering Indian Institute of Technology Jodhpur-Rajasthan India.

whatsapp image 2023 06 30 at 17 47 32

Ziarah Perintis Kompas Gramedia

Merupakan tradisi yang terus dijalankan di berbagai unit bisnis Kompas Gramedia, di mana dalam merayakan momen penting perusahaan, diadakan ziarah ke makam para Perintis Kompas Gramedia, yakni Bapak Jakob Oetama dan Bapak Petrus Kanisius Ojong. Terletak di lokasi pemakaman yang berbeda, di mana Bapak P. K. Ojong dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir dan Bapak Jakob Oetama dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. 

Irwan Oetama mewakili keluarga bercerita dalam sambutannya bahwa saat Kompas pertama kali berdiri usianya masih tujuh tahun. Ia menambahkan bahwa sebagai anak sekaligus karyawan ada banyak hal yang bisa dipetik, bukan hanya mencari uang dan kekuasaan, tapi juga belajar mengenai hidup bersama menghargai satu sama lain. 

mykg 30 juni 1

Cerita menarik juga disampaikan Mariani Ojong dalam sambutannya mewakili keluarga. Ia menambahkan bahwa saat Kompas berdiri, usianya masih empat tahun. Mariani kembali menceritakan bahwa saat sekolah dulu, ia sering melihat karyawan kompas seperti tua-tua. Tapi saat kembali ke Kompas Gramedia hari ini, semuanya terlihat muda-muda. Ia menyatakan kebanggaannya melihat anak-anak muda berkreasi dan meneruskan perjalanan Kompas dan Kompas Gramedia.
 

Tumpengan dan Anugerah Cendekiawan Berdedikasi Kompas 2023

Sebagai kalangan yang menjunjung tinggi budaya bangsa, Kompas Gramedia masih mengadakan tradisi tumpengan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berlokasi di Ruang Maoke, Lt. 6, Gedung Kompas Gramedia Palmerah Selatan. Prosesi tumpengan dilakukan oleh CEO Kompas Gramedia Lilik Oetama yang kemudian diserahkan kepada Menteri Sosial RI Tri Rismaharini dan perwakilan karyawan terlama di Kompas.

Risma dalam sambutannya mengucapkan selamat ulang tahun ke-58 Harian Kompas. Baginya, Kompas bukanlah sesuatu yang asing. Ia sedikit bercerita bahwa saat masih menetap di Kediri, ia dan keluarga baru bisa mengakses informasi H +1 dari terbitan harian koran Kompas.

“Saya membaca Kompas sejak saya mulai bisa baca, yaitu kelas 2 SD. Kompas tidak tertarik untuk sesuatu yang instan, itu yang membuat saya kagum,” ujar Risma.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Penganugerahaan Cendekiawan Berdedikasi Kompas 2023. Penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Kompas merupakan penghargaan yang diprakarsai oleh Jakob Oetama untuk para ilmuan yang senantiasa mengabdi dan melayani kepentingan masyarakat luas melalui profesi kepakaran mereka. Pada tahun ini, Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dan Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Elizabeth Kristi Poerwandari menjadi dua peraih Anugerah Cendekiawan Berdedikasi Kompas 2023. 

mykg 30 juni 2

Pesta Karyawan

Berlokasi di Lantai 7 Menara Kompas, diadakan pesta karyawan Harian Kompas. Acara ini dikemas sebagai sarana untuk berbagi keceriaan dan kebahagiaan atas momentum ulang tahun 58 Kompas. Beberapa aktivasi menarik di antaranya adalah sesi pengantar rebranding Kompas, sesi berbagi performa Kompas.id, kuis berhadiah, karaoke bersama, berbagi pengalaman karyawan selama bekerja, dan tentunya doorprize.

Pada sesi berbagai pengalaman karyawan, karyawan Desk Budaya Sulastri yang sudah berdedikasi di Kompas selama 39 tahun membagikan ceritanya, mulai dari yang menegangkan, menggelitik, dan menyenangkan.

“Selama 39 tahun di Kompas, saya cukup punya banyak cerita. Kalau dimulai dari menegangkannya, waktu itu saya ke Lapas Pemuda di Tangerang hampir diganggu sama narapidana di sana. Lalu kalau yang memalukan, saya pernah disangka korban pemerkosaan di persidangan, karena waktu itu tubuh saya kurus, akhirnya hakim menjelaskan bahwa saya wartawan Kompas. Senangnya juga ada, saya bisa jalan-jalan ke berbagai tempat dan bertemu banyak pengalaman yang menyenangkan selama menjadi wartawan Kompas,” pungkas Sulastri.

Sulastri juga berpesan kepada generasi muda Kompas untuk loyal dan jangan perhitungan dengan perusahaan. Bekerjalah dengan senang hati dan ambil semua risiko yang ada. Ia berpesan generasi muda harus semangat dan melanjutkan Kompas sepanjang masa.