Setelah Pak JO Pergi (oleh Y. Priyo Utomo) - Bagian 1

AGATHA TRISTANTI

Ada perbedaaan antara resume virtue dengan eulogy virtue. Resume virtue adalah apa yang kita tulis di riwayat hidup kita. Ketrampilan yang kita punya di bursa kerja. Eulogy virtue adalah kebajikan yang dibicarakan orang di upacara pemakaman kita. Kebajikan yang ada di diri kita: Apa kita ini orang baik hati, jujur, sederhana, berani, setia.

Eulogy virtue lebih mendalam daripada resume virtue. Selama ini perhatian orang lebih pada resume virtue. Sistem pendidikan dan perbincangan publik, begitu pula kiat-kiat pengembangan diri di buku-buku bestseller, lebih berorientasi pada resume virtue daripada eulogy virtue. Kebanyakan orang lebih memiliki strategi tentang mencapai karier daripada karakter.

Kesan, testimoni, dan kenangan tentang Pak Jakob Oetama (JO), yang diekspresikan dalam berbagai tulisan dan perbincangan, sejauh saya tangkap, lebih merupakan eulogy virtue. Kearifan, kesederhanaan, kesabaran, ketulusan, kerendahan hati, dan berbagai kebajikan diungkapkan oleh berbagai kalangan. Kalau kita runut ke belakang, hati yang baik dan bijaksana diperoleh dan dikembangkan melalui upaya tekun sepanjang hidup dengan menggali jauh ke dalam diri lewat jalan yang kadang penuh luka.

Menurut David Brooks, dalam The Road to Character, jauh di dalam diri, kita ini memiliki dua sisi. Di satu sisi kita adalah orang yang gampang terjatuh. Di sisi lain juga sangat diberkati. Kita memiliki sisi berdosa (egois, berdusta, mendustai diri), tetapi juga memiliki sisi lain yang mencari transendensi dan kebajikan.

Dalam rumusan Joseph Soloveitchik, melalui Lonely Man of Faith, ada dua sisi yang berlawanan dalam diri kita, yang disebut Diri I dan Diri II. Diri I adalah Diri eksternal, resume. Diri I adalah sisi yang berorientasi pada karier, ambisi. Diri I ingin memiliki status yang tinggi dan kesuksesan gilang-gemilang.

Sementara Diri II adalah Diri internal. Diri II ingin memiliki batin yang tentram, kukuh tentang apa yang benar dan salah. Bukan hanya berbuat baik, tetapi juga menjadi baik. Diri II ingin mencintai, mengorbankan diri, melayani orang lain, hidup dalam kepatuhan terhadap kebenaran transenden.

Jika Diri I ingin menaklukkan dunia, Diri II ingin melayani dunia. Bila Diri I kreatif dan menikmati kesuksesan, Diri II kadang menolak kesuksesan dan status duniawi. Jika Diri I ingin berkelana menjelajah dunia, Diri II ingin kembali ke akarnya dan menikmati kehangatan masakan rumah.

Menurut Soloveitchik, kita hidup dalam kontradiksi antara kedua Diri ini. Diri Eksternal yang serba megah dan Diri Internal yang rendah hati. Kedua hal itu tidak akan bisa didamaikan secara utuh. Selamanya kita terperangkap dalam konfrontasi diri. Selamanya kita diminta untuk menguasai seni hidup di antara kedua tegangan ini.

Selama ini kita cenderung sibuk dengan Diri I daripada Diri II. Kita hidup di tengah masyarakat dan zaman yang mengagungkan karier yang hebat, tetapi lupa bagaimana menumbuhkan kehidupan batin. Orang berlomba-lomba mengunggulkan diri dan merendahkan yang lain. Persaingan untuk sukses dan dikagumi sungguh keras sehingga begitu menghabiskan hidup kita.

Dunia konsumen mendorong kita untuk hidup berdasarkan perhitungan kemanfaatan, untuk memuaskan hasrat kita. Secara konstan, dunia mencecar kita bahwa jalan menuju kehidupan yang lebih baik adalah lebih, lebih, dan lebih—lebih banyak, mobil lebih mewah, pekerjaan lebih lebih baik, rumah lebih bagus, dan seterusnya.

Keriuhan komunikasi yang serba cepat dan dangkal makin menyulitkan kita untuk mendengar suara hening yang memancar dari kedalaman. Kita hidup dalam budaya promosi diri dan mengiklankan diri, tetapi tidak mendorong ke kerendahan hati, simpati, konfrontasi diri yang jujur yang diperlukan untuk membangun karakter.

Saya tidak tahu, apakah wajah sehari-hari Pak JO yang lebih sering nampak serius, seperti selalu ada yang dipikirkan, karena perkara bangsa, negara, karyawan, perusahaan, keluarga, atau sesungguhnya karena ketegangan dan konfrontasi kedua sisi, Diri I dan Diri II, yang tidak ada habisnya itu. Kisah hidup JO adalah kisah tentang bagaimana seseorang menumbuhkan karakter dan kepribadian. Tentang bagaimana mengukuhkan suatu tekad dan kerangka pikir untuk memasang baja di jati dirinya dan menumbuhkan hati yang welas asih.

Saya sungguh beruntung bisa mengenal—bahkan bekerja bersama—Pak JO dan juga Pak Ojong. Mereka adalah sosok inspiratif yang oleh Stephen Covey disebut sebagai orang “mulia” (great), bukan sekadar efektif atau sukses. Saya bersyukur mengenal sifat mereka yang jujur dan sadar pada kelemahan diri tetapi terus berusaha untuk berpusat pada kebajikan, kemurahan hati, dan rasa hormat pada orang lain.

Sosok-sosok hebat ini oleh Jim Collins, dalam Good to Great, disebut sebagai pemimpin level 5. Salah satu ciri pemimpin level 5 adalah: Membangun kejayaan lestari melalui kombinasi paradoksal antara kerendahan hati dan kehendak profesional. Mencurahkan energi, semangat, kreativitas, dan disiplin untuk sesuatu yang lebih besar dan lebih bertahan lama daripada kepentingan diri sendiri.

Bukan berarti mereka tidak memiliki ego atau kepentingan pribadi. Tetapi ambisi mereka pertama-tama dan terutama adalah tentang institusi, bukan untuk kepentingan diri mereka sendiri. Mereka mengajarkan dengan contoh bahwa kehidupan adalah misi, bukan karier. Kebahagiaan sejati bisa ditemukan dengan melayani orang lain. Mereka bukan menjalani kehidupan yang tenang dan bebas konflik, tetapi terus berjuang menuju kematangan. Seperti pohon yang berakar dalam. Mereka tidak buyar oleh hantaman badai. Tidak runtuh ketika diterpa kemalangan.

Sehari-hari, mereka cenderung menarik diri, tidak menonjol-nonjolkan diri. Mereka memiliki kebajikan santun: kerendahan hati, pengendalian diri, dan disiplin diri. Kerendahan hati adalah kebebasan dari kebutuhan untuk membuktikan bahwa mereka hebat dan unggul di sepanjang waktu. Mereka tidak perlu membuktikan apa pun pada dunia. Mereka tidak pernah sok benar dan sok yakin. Mereka hanya melakukan apa yang perlu dilakukan.

Mereka menjawab dengan lembut ketika ditantang dengan keras. Mereka diam dan tidak membalas ketika orang lain menghina mereka. Mampu mengendalikan diri ketika orang lain berusaha membangkitkan kemarahannya. Mereka sabar dengan orang-orang yang tidak sempurna di sekitar mereka. Tetapi, mereka melakukan dan menyelesaikan segala sesuatunya.

Ringkasnya, mereka adalah orang-orang yang mengarahkan hidupnya bukan sekadar demi self-achievement atau self-fulfillment, tetapi self-transcendence. Orang-orang yang bisa begitu adalah orang-orang yangbisa menghidupi paradoks: mencapai puncak justru dengan cara menegasi diri, menganulir diri, menganggap diri sepi, demi tujuan yang lebih besar daripada diri sendiri dan bahkan institusi. 

 

Jakarta, 18 Desember 2020

Y. Priyo Utomo

CEO Group of Retail and Publishing

(100 Hari Mengenang Sang Guru, Jakob Oetama)

Content Writer

AGATHA TRISTANTI

Corporate Branding Analyst

KOMPAS GRAMEDIA - CORPORATE COMMUNICATION