“Batik Peranakan, dengan demikian, sebenarnya hanya merupakan salah satu aspek kehidupan, di mana pengaruh Tionghoa diterima secara terbuka dan membuahkan jenis batik baru. Batik Peranakan merupakan perpaduan antara berbagai elemen budaya tempat di mana batik tersebut tumbuh seperti di Lasem, Cirebon, Pekalongan dan tempat lain,” tutur Frans Sartono, Kurator Bentara Budaya.
Di sisi lain Efix Mulyadi sebagai Kurator Bentara Budaya pun menambahkan bahwa Batik Peranakan telah menjadi bagian dari jenis batik. “Sejak dilahirkan sebagai anak kandung budaya Indonesia, Batik Peranakan terus tumbuh, berproses menyambut waktu yang berjalan dan membentuk zaman. Batik peranakan tidak hanya meneruskan pakem lama, akan tetapi berdialog dengan zaman,” ujarnya.
Melengkapi pameran, digelar juga Bazar di Bentara Budaya Jakarta yang melibatkan puluhan Usaha Kecil Menengah (UMKM) dari berbagai kota di Indonesia. Tak hanya berupa lembaran kain, bazar juga menampilkan bermacam produk turunan batik, seperti pakaian jadi, kipas, ikat kepala, selendang, jarit, dan syal. Dengan harga bervariasi, produk ini lebih terjangkau berbagai kalangan. Ada juga agenda menarik seperti trunk show karya perancang busana Maya Ratih serta talkshow terkait Batik Peranakan.
“Semangat keindonesiaan bukan lagi wacana, melainkan telah berdenyut hidup dalam kreativitas seniman batik. Dengan memanggungkan karya mereka, kita turut serta menjaga identitas budaya Indonesia,” tutup Ilham Khoiri, General Manager Bentara Budaya & Communication Management, Corporate Communication Kompas Gramedia.