Info Unit

Info Unit News

FLASH NEWS

Batik Peranakan Memperkuat Toleransi di Indonesia

Jakarta, 10 APRIL 2026 - Bukan hanya sehelai kain, batik yang telah dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia oleh UNESCO juga merangkum makna toleransi yang berharga. Demikian pula dengan batik peranakan yang tersebar di kawasan pesisir Pulau Jawa. Ragam motifnya sarat simbol perpaduan budaya antara Jawa dan Tiongkok yang terjalin sejak sekian abad silam, menunjukkan keselarasan akulturasi yang harus senantiasa dilestarikan.

Semangat itulah yang hendak dihadirkan dalam Pameran Batik “Metamorfosa: Akulturasi  Batik Peranakan Jakarta, Lasem, Cirebon, Pekalongan” di Bentara Budaya Jakarta pada 9 April - 5 Mei 2026 di Bentara Budaya Art Gallery. Pameran ini dibuka oleh Wakil  Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, menampilkan puluhan karya batik dari delapan seniman batik, yaitu Dave Tjoa, Giok/Indrawati (Batik Kanoman), Liem Po Hien (Batik Liem Ping Wie), Purwati Katrin (Batik Katrin Bee), Renny Ong (Batik Maranatha Ong’s Art), Sulistyono (Batik Nyah Kiok), Valentina Ekawatiningsih (Batik Lumintu), dan Widianti Widjaja (Batik Oey Soe Tjoen). 

whatsapp image 2026 04 10 at 2 41 04 pm

Dalam sambutannya, Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa menuturkan, “Batik merupakan warisan budaya bangsa yang kaya akan nilai estetika, filosofi, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Lebih dari sekadar kain, batik merupakan bagian dari identitas bangsa dan menjadi salah satu soft power Indonesia di mata dunia. Kementerian Pariwisata mendorong agar batik dan wastra Indonesia tidak hanya menjadi pelengkap di sektor pariwisata, tetapi harus menjadi tujuan dari pariwisata itu sendiri. Pameran batik seperti ini memiliki peran yang sangat strategis, tidak hanya sebagai ruang apresiasi terhadap karya dan tradisi batik, tetapi juga sebagai upaya menarik wisatawan dan menghadirkan pengalaman budaya yang autentik. Regenerasi pengrajin batik menjadi kunci dari eksistensi budaya bangsa kita.”

whatsapp image 2026 04 10 at 2 32 51 pm 2

Sementara itu Bentara Budaya Director Glory Oyong menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada segala pihak yang mendukung kegiatan ini. Lebih lanjut ia mengungkapkan, “Bentara Budaya telah hadir hampir 45 tahun sebagai lembaga budaya yang mengoleksi dan memamerkan karya seniman-seniman seluruh Indonesia. Saat ini jumlah koleksinya sudah mencapai 3.000 karya yang setiap bulannya kami tampilkan di ruang galeri ini. Ini adalah perpanjangan dari corporate social responsibility Kompas Gramedia menyediakan ruang untuk para seniman berkarya dan dikenal publik. Pada pameran kali ini, kami sangat bangga dapat menghadirkan karya wastra Indonesia yang begitu kaya, khususnya batik peranakan yang merupakan bukti nyata bagaimana akulturasi budaya dapat melahirkan keindahan yang tak lekang oleh waktu.”

whatsapp image 2026 04 10 at 2 32 51 pm

President Director KompasTV Rosianna Silalahi menjelaskan, "Saya melihat karya-karya Dave Tjoa dan sungguh-sungguh takjub. Hanya dalam dua tahun berkarya, ia sudah menghasilkan mahakarya yang luar biasa. Dari situ kita belajar bahwa ini bukan tentang lama atau sebentarnya seseorang dalam berdedikasi, tapi bagaimana tentang kecintaan, kesungguhan, konsistensi, dan kerja keras. Karya-karya seperti ini haruslah terus-terus kita wartakan. Hari ini adalah hari pertama Bentara Budaya menyelenggarakan pameran batik, dan tentu saja tidak akan menjadi yang terakhir. Atas nama Kompas Gramedia, kami tidak saja bekerja untuk mencerdaskan dan mencerahkan bangsa, tetapi memiliki pondasi untuk terus merawat budaya Indonesia." 

whatsapp image 2026 04 10 at 2 32 51 pm 1

Salah satu seniman yang berpameran, Dave Tjoa, menyebutkan, “Batik adalah sebuah proses yang lahir dari hati dan cinta. Dalam menjalani proses batik, kita diajarkan untuk memiliki kesabaran ekstra, ketelitian, kewaspadaan, dan berserah kepada sang pencipta. Kami ingin menunjukkan bahwa kami masih hadir dan tetap bertahan, jangan pernah lupakan kami, karena kami memiliki sumbangan yang sangat berharga bagi khazanah budaya batik Indonesia.”

Pesan Toleransi Sepanjang Masa

Salah satu Koordinator Ekspedisi Selisik Batik Kompas, Sri Rejeki, menyebutkan jejak batik telah terekam sejak berabad-abad lalu. Penemuan arca di Candi Ngrimbi dekat Jombang, Jawa Timur, misalnya, menggambarkan sosok pria yang mengenakan kain bermotif kawung. Pengalamannya turut dalam "Ekspedisi Selisik Batik Kompas" juga mengungkap hubungan saling mempengaruhi antara budaya Jawa dan Tionghoa lewat sehelai kain batik. 

whatsapp image 2026 04 10 at 2 48 53 pm

“Burung phoenix yang dalam mitologi China melambangkan keabadian dan keharmonisan,  berdampingan dengan motif pesisir Jawa dalam warna-warna yang cerah dan kontras. Qilin  pun menemukan ‘rumah baru’-nya di kain batik Jawa bersama motif-motif seperti kawung dan ukel,” jelas Sri Rejeki. 

Sejarah mencatat keberadaan Tionghoa Peranakan tersebar di berbagai kawasan Nusantara.  Keberadaan mereka mempertemukan kebudayaan yang mereka bawa dengan kebudayaan di tempat mereka berada. Maka lahirlah berbagai jenis kultur “baru” dari kuliner, musik, sastra, seni pertunjukan, dan juga budaya wastra.

whatsapp image 2026 04 10 at 2 55 40 pm

“Batik Peranakan, dengan demikian, sebenarnya hanya merupakan salah satu aspek  kehidupan, di mana pengaruh Tionghoa diterima secara terbuka dan membuahkan jenis batik baru. Batik Peranakan merupakan perpaduan antara berbagai elemen budaya tempat di mana batik tersebut tumbuh seperti di Lasem, Cirebon, Pekalongan dan tempat lain,” tutur Frans Sartono, Kurator Bentara Budaya.

Di sisi lain Efix Mulyadi sebagai Kurator Bentara Budaya pun menambahkan bahwa Batik Peranakan telah menjadi bagian dari jenis batik. “Sejak dilahirkan sebagai anak kandung budaya Indonesia, Batik Peranakan terus tumbuh, berproses menyambut waktu yang berjalan dan membentuk zaman. Batik peranakan tidak hanya meneruskan pakem lama, akan tetapi berdialog dengan zaman,” ujarnya. 

Melengkapi pameran, digelar juga Bazar di Bentara Budaya Jakarta yang melibatkan puluhan Usaha Kecil Menengah (UMKM) dari berbagai kota di Indonesia. Tak hanya berupa lembaran kain, bazar juga menampilkan bermacam produk turunan batik, seperti pakaian jadi, kipas, ikat kepala, selendang, jarit, dan syal. Dengan harga bervariasi, produk ini lebih terjangkau berbagai kalangan. Ada juga agenda menarik seperti trunk show karya perancang busana Maya Ratih serta talkshow terkait Batik Peranakan. 

“Semangat keindonesiaan bukan lagi wacana, melainkan telah berdenyut hidup dalam  kreativitas seniman batik. Dengan memanggungkan karya mereka, kita turut serta menjaga identitas budaya Indonesia,” tutup Ilham Khoiri, General Manager Bentara Budaya & Communication Management, Corporate Communication Kompas Gramedia.