Jagat Satwa Nusantara (JSN) berhasil menetaskan satu anakan kura-kura pancake (Malacochersus tornieri), spesies kura-kura darat asal Afrika Timur yang berstatus Kritis (Critically Endangered) dalam Daftar Merah IUCN. Hal ini merupakan keberhasilan sebagai penetasan kura-kura pancake pertama di Asia. Pencapaian ini menjadi catatan penting bagi tim perawat satwa dan kuratorial Jagat Satwa Nusantara di Museum Komodo dalam mengelola reproduksi reptil di lingkungan konservasi ex situ.
Berdasarkan catatan tim, satu anakan menetas pada 24 September setelah masa inkubasi selama 178 hari, atau sekitar enam bulan. Rangkaian pencatatan reproduksi mencakup perkawinan pada 8 Januari serta pemeriksaan radiografi (rontgen) pada 17 Februari. Dokumentasi tersebut melengkapi catatan reproduksi dan penetasan sebagai bahan evaluasi pengelolaan satwa.
Kura-kura pancake mudah dikenali dari tempurungnya yang pipih dan relatif lentur. Di habitat alaminya, bentuk tubuh tersebut membantu satwa ini masuk dan berlindung di celah bebatuan. Spesies ini ditemukan terutama di Kenya dan Tanzania.
Penetasan kura-kura pancake memerlukan perhatian khusus karena jumlah telurnya sedikit. Kura-kura ini umumnya menghasilkan satu telur dalam satu periode bertelur, sementara masa inkubasinya dapat berlangsung selama beberapa bulan. Bagi JSN, keberhasilan penetasan menjadi kesempatan untuk memperkuat pencatatan tentang perawatan induk, proses reproduksi, inkubasi, dan perkembangan anakan.
“Keberhasilan breeding bukan sekadar tentang lahir atau menetasnya satwa baru. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun pengetahuan mengenai husbandry, reproduksi, inkubasi, hingga perkembangan anak yang nantinya dapat menjadi referensi untuk pengelolaan spesies secara berkelanjutan,” ujar Purnomo Budi Dewanto, Kurator Museum Komodo Jagat Satwa Nusantara.
Jagat Satwa Nusantara akan terus memantau perkembangan anakan dan mendokumentasikan data perawatannya. Catatan tersebut diharapkan mendukung pengelolaan kura-kura pancake dalam jangka panjang sekaligus menjadi bahan pembelajaran tentang satwa terancam punah.
Pencapaian ini sejalan dengan pengembangan JSN sebagai Zoo Skolastik tempat pengelolaan satwa, konservasi, penelitian, dan pendidikan publik saling terhubung. Melalui kisah penetasan ini, JSN juga ingin mengajak masyarakat memahami bahwa upaya konservasi memerlukan pengetahuan, ketekunan, dan pemantauan yang berkelanjutan.