Di sisi lain, pameran “Menyongsong Matahari 2026” menampilkan karya-karya terbaru Nasirun yang merefleksikan kontemplasi atas kehidupan. Melalui tiga nilai utama—waras, wiris, wareg—Nasirun mengajak kita menjaga kesehatan lahir batin, senantiasa mengingat Tuhan, dan mencapai kecukupan hidup agar pikiran tetap jernih. Ketiganya menjadi fondasi penting dalam menapak kehidupan, khususnya di awal tahun yang baru.
Salah satu karya penting dalam pameran ini adalah “Selamat Pagi 2026”, yang terinspirasi dari peristiwa budaya yang wingit dalam konser Urup dan lagu Urip. Karya ini menggambarkan upaya menjaga kenormalan hidup sembari menyongsong matahari terbit. Suasana hening pagi, kidung macapat, lentera-lentera yang mengantar langkah ke hadapan kanvas, hingga suara anak-anak menyanyikan lagu Rehat, menjadi rangkaian pengalaman batin yang mengajak penonton untuk merenung. Matahari terbit menjadi simbol harapan pagi itu, 2026.
Melalui pameran ini, Bentara Budaya Yogyakarta mengajak publik untuk melihat kembali rekam jejak seni budaya Indonesia sebagai dokumentasi penting bagi generasi kini dan mendatang, sekaligus membuka ruang refleksi untuk menyongsong masa depan dengan kesadaran dan harapan baru.