Ilham Khoiri selaku GM Bentara Budaya dan Communication Management Kompas Gramedia dalam sambutanya mengatakan, “Di dalam diri manusia, selalu ada keinginan untuk melampiaskan hasrat, ego. Itu menunjukkan bawa manusia dalam berbagai situasi tenggelam dalam napsu dunia untuk melampiaskan egonya. Kontras dengan itu, pameran ini mengimbau kita untuk sebaliknya. Mas RB Ali dan Mas Gogor berusaha mendorong kita untuk mengosongkan diri sehingga kita menemukan diri kita yang lebih autentik, dan setelah itu kita mengisinya dengan hal-hal yang baik.”
Dinamika antara pengalaman kosong dan kemudian terisi itu diekspresikan dalam lukisan dengan bentuk-bentuk setengah figuratif. Ada gubahan-gubahan bentuk yang mengingatkan kita pada makhluk hidup atau benda-benda keseharian, seperti manusia, pohon, ikan, kursi, atau tangga. Namun, semua obyek itu tidak ditampilkan dengan anatomi utuh dan detail. Obyek yang tampak justru sering hanya rangkaian potongan yang sudah direduksi, dicomot, dibikin agak kubistis, diacak, dan dimainkan sesukanya.
Melihat lukisan-lukisannya, kita seperti menangkap berbagai kilasan fragmen pengalaman personal. Benar-benar kilasan yang tidak utuh karena tereduksi dalam pecahan visual yang liar. Namun, saat diperhatikan, kilasan itu juga tak sepenuhnya asing, lama-lama terasa kayak kita kenal. Kita seperti berada di antara tidak memahami sekaligus bisa mengenali; antara kosong dan isi.
Pendekatan itu berbeda dengan gaya visual Gogor yang lekat dengan lukisan bercorak abstrak. Dia senang memainkan bentuk-bentuk geometri. Salah satunya, lingkaran. Lingkaran adalah garis melengkung yang tersambung tanpa putus; yang tidak punya awal ataupun akhir. Kadang, dia juga memasukkan garis-garis yang luwes. Garis sendiri atau bergerombol, lurus atau bengkok bergelombang. Tiada pretensi untuk mereka-reka bentuk tertentu. Semua mengalir begitu saja. Dalam proses berkarya, Gogor sering kali mengalami kekosongan. Seperti Van Gogh, untuk memulai melukis ia hanya perlu berhenti berpikir, melepaskan dorongan instingtualnya untuk bergerak menorehkan garis, warna dan bentuk, hingga hal-hal tak terduga yang akan muncul diatas kanvasnya. Dengan kondisi ini, emosinya benar-benar lebur ditengah kehampaan, lepas dari ruang dan waktu, seperti sesuatu yang tidak pernah disadarinya, ia menyerahkan begitu saja pada proses kemenjadian yang esensial ini. Dari sini ia merasakan perjalanan yang sesungguhnya, yakni ke"Suwung"an itu. Sampai disitu batinnya mulai berdialog dengan karya yang akan "menjadi" ini.
Kurator Pameran Mayek Prayitno bercerita awal mula pameran ini, “Peristiwa yang dialami Mas Ali, ketika istrinya sakit terus kemudian meninggal. Dia mengalami shock, terguncang keras. Hingga ia berpikir untuk mengisi kekosongan itu berdasarkan apa yang dialami. Judul karya ‘Patah Sayap’, karya yang mendalam bagi Mas Ali, bercerita tentang rasa kehilangan dia terhadap istrinya di masa-masa itu. Setelahnya, Mas Ali tidak berhenti membuat karya yang senada.”
“Saya kira apa yang ingin disampaikan Mas Gogor dan Mas Ali, mengajak kita kembali untuk berefleksi, merenung untuk memikirkan ulang apa yang terjadi di situasi kita sekarang ini baik secara pribadi maupun komunal (masyarakat) secara umum. Dua perupa mengajak kita kosong kembali untuk mengisi kembali,” tutup Mayek.
Sedangkan, Kurator Pameran Sentot D. Setiawan menambahkan, “Kerja seniman itu punya akar, punya pondasi dalam tiap pribadi masing-masing, membangun statement atau dasar. Warna-warna Mas Ali dan Mas Gogor saat ini mewakili semua generasi.”