Info Unit

Info Unit News

FLASH NEWS

Pameran Merengkuh Luka Peradaban, Intan Dewi Sukmawangi Olah Limbah Plastik Menjadi 29 Karya Seni

JAKARTA, 23 OKTOBER 2026 — Sampah plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat menjadi karya seni sekaligus pengingat akan dampak perilaku konsumsi manusia terhadap lingkungan. Pesan tersebut diangkat seniman Intan Dewi Sukmawangi melalui pameran tunggal “Merengkuh Luka Peradaban” yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Selatan Nomor 17, pada 22 Oktober–13 November 2026.

Pameran ini menghadirkan 29 karya berbahan limbah plastik dan berbagai material bekas yang diolah menjadi lukisan, patung satwa, serta instalasi seni. Karya-karya tersebut ditampilkan di ruang galeri utama, Galeri Sisi, dan halaman depan Bentara Budaya Jakarta.

Pameran dibuka oleh musisi sekaligus aktivis Melanie Subono. Dalam sambutannya, Melanie menyampaikan, “Seniman adalah orang-orang beruntung yang bisa menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan tanpa harus pusing dengan politisasi. Dalam menikmati karya seni ini, mari kita berpikir tentang apa yang bisa kita lakukan. Jangan hanya berpikir, ‘Gue mau melakukan perubahan,’ tetapi tanamkan bahwa ‘gue adalah perubahan itu.’”

whatsapp image 2026 10 23 at 13 13 22 1

Melanie Subono memberikan sambutan dan meresmikan pameran "Merengkuh Luka Peradaban" (dok. Multimedia CorpComm KG)

Melalui pameran ini, Intan mengangkat persoalan sampah dan dampak perilaku konsumsi manusia terhadap lingkungan. Berbagai material yang digunakan sehari-hari, seperti botol plastik, galon PET, kemasan rumah tangga, kantong plastik, tutup botol, hingga sendok dan garpu sekali pakai, dikumpulkan dan disusun kembali menjadi berbagai bentuk karya seni.

Sejumlah karya menampilkan sosok orangutan, gajah, kuda, ikan, serta berbagai bentuk kehidupan lainnya. Tubuh satwa tersebut dibangun dari material yang justru menjadi bagian dari persoalan pencemaran lingkungan dan ancaman terhadap keberlangsungan habitatnya.

Melalui pendekatan tersebut, Intan tidak hanya memanfaatkan limbah sebagai bahan alternatif penciptaan karya, tetapi juga mengajak pengunjung meninjau kembali hubungan antara kebiasaan konsumsi, produksi sampah, dan kehidupan makhluk lain yang turut menanggung akibatnya.

Dalam proses penciptaannya, Intan mengumpulkan, memilah, memotong, dan merangkai kembali material bekas menjadi berbagai figur dan instalasi. Warna, tekstur, bentuk, serta bekas penggunaan material tetap dipertahankan sebagai bagian dari karakter visual karya.

Latar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Trisakti, Jakarta, turut mewarnai perjalanan artistik Intan. Eksplorasinya terhadap material bekas berkembang dari pengolahan kemasan plastik menjadi karya dua dimensi hingga penciptaan patung satwa dan instalasi berskala besar. Dalam proses tersebut, Intan juga bekerja sama dengan sejumlah komunitas pengumpul sampah plastik.

whatsapp image 2026 10 23 at 13 13 22 5

Seniman pameran "Merengkuh Luka Peradaban", Intan Dewi Sukmawangi (dok. Multimedia CorpComm KG)

Bagi Intan, pameran ini berangkat dari kegelisahaannya terhadap jejak yang ditinggalkan manusia melalui kebiasaan menggunakan dan membuang berbagai benda dalam kehidupan sehari-hari. Material yang telah kehilangan fungsi kerap disingkirkan, meskipun dampaknya terhadap lingkungan tidak serta-merta berakhir.

“Saya tidak hanya mengolah material yang telah dibuang. Saya mencoba mengembalikan ingatan dan makna yang pernah melekat padanya,” ungkap Intan.

Intan menambahkan, “Bagi saya, sampah adalah bagian dari kehidupan dan rekam jejak bagaimana kita menjalani sebuah peradaban. Dalam perjalanan saya mengolah sampah, saya menyadari bahwa yang saya rangkai ini bukan hanya sampah, tapi ternyata adalah sebuah suara. Suara yang mana terdapat luka. Luka kehidupan, luka tumbuhan, luka hewan, atau bahkan luka kita sendiri.”

Melalui praktik upcycling, Intan berupaya mengubah persepsi terhadap benda yang dianggap tidak bernilai, sekaligus menghadirkan persoalan hilangnya habitat satwa dan perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia. Baginya, material bekas bukan sekadar bahan penciptaan, melainkan bagian dari cerita tentang kebiasaan, konsumsi, dan jejak kehidupan manusia.

Membaca Sampah sebagai Jejak Peradaban

General Manager Bentara Budaya & Communication Management, Corporate Communication Kompas Gramedia, Ilham Khoiri, menyampaikan bahwa persoalan sampah plastik di Indonesia semakin mendesak untuk ditangani. Mengacu pada data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah di Indonesia pada 2025 mencapai 24,8 juta ton per tahun berdasarkan laporan dari 244 kabupaten/kota.

Ilham menyoroti hubungan antara produksi sampah, gaya hidup konsumtif, dan tanggung jawab manusia terhadap keberlanjutan lingkungan.

Menurut Ilham, keterbatasan pengelolaan sampah membutuhkan berbagai upaya bersama, termasuk inisiatif masyarakat dan seniman dalam mengolah kembali limbah menjadi benda yang memiliki fungsi maupun nilai baru.

“Pameran 'Merengkuh Luka Peradaban' mengajak kita untuk menyadari kenyataan, bahwa kita sebagai manusia kerap terbuai oleh ego tanpa peduli pada keberlanjutan Bumi beserta seluruh ekosistem di dalamnya,” ungkapnya. 

“Ada sekelompok masyarakat yang berusaha secara mandiri mengelola sampah baik dengan recycling maupun upcycling. Salah satu kelompok itu adalah seniman, dan salah satu senimannya adalah Mbak Intan Dewi Sukmawangi. Sampah yang dikelola Mbak Intan adalah sampah yang ditemukan di sekitarnya untuk menciptakan karya seni,” tutup Ilham.

Sementara itu, kurator pameran, Wisnu Nugroho, yang juga menjabat VP Sustainability KG Media, melihat praktik artistik Intan sebagai upaya menghadirkan kembali material sisa konsumsi manusia ke ruang apresiasi seni.

Dalam pengantar kuratorialnya, Wisnu mengemukakan bahwa kehidupan modern menghasilkan berbagai kemudahan sekaligus limbah yang membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk terurai. Benda yang digunakan hanya dalam waktu singkat dapat meninggalkan jejak material yang bertahan melampaui masa penggunaannya.

Melalui karya-karya Intan, sampah tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai benda yang telah kehilangan fungsi, tetapi juga sebagai rekaman tentang pola konsumsi dan hubungan manusia dengan lingkungan. Tubuh-tubuh satwa yang dibangun dari limbah menghadirkan ironi antara kehidupan yang terancam dan material yang turut menjadi penyebab ancaman tersebut.

“Hidup itu perlu gangguan untuk kesadaran kita dibangun. Nggak semua yang ada di sini indah, dan memang dirancang demikian. Pameran ini akan menimbulkan gangguan buat kita, untuk kesadaran kita dibangun. Kesadaran bahwa kita sebagai orang modern meninggalkan jejak pada peradaban ini dalam bentuk luka yaitu sampah,” tutup Wisnu.

whatsapp image 2026 10 23 at 13 13 22 9

Suasana pameran recycle art "Merengkuh Luka Peradaban" (dok. Multimedia CorpComm KG)

Melalui pameran ini, persoalan limbah dan lingkungan dihadirkan melalui bahasa seni rupa yang dapat dijangkau oleh berbagai kalangan pengunjung. Selain memperlihatkan kemungkinan kreatif pengolahan material bekas, pameran ini mengajak publik mempertanyakan kebiasaan menggunakan, membuang, dan mengganti benda-benda konsumsi.

Bagi Intan, judul ‘Merengkuh Luka Peradaban’ merupakan ajakan untuk tidak mengabaikan dampak dari kebiasaan manusia terhadap lingkungan. Melalui 29 karya yang dipamerkan, ia berharap pengunjung tidak hanya mengapresiasi bentuk dan keunikan material, tetapi juga mempertimbangkan kembali jejak konsumsi yang dihasilkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pameran tunggal ‘Merengkuh Luka Peradaban’ dapat dikunjungi di Bentara Budaya Jakarta hingga 13 November 2026.