Melalui pameran ini, Intan mengangkat persoalan sampah dan dampak perilaku konsumsi manusia terhadap lingkungan. Berbagai material yang digunakan sehari-hari, seperti botol plastik, galon PET, kemasan rumah tangga, kantong plastik, tutup botol, hingga sendok dan garpu sekali pakai, dikumpulkan dan disusun kembali menjadi berbagai bentuk karya seni.
Sejumlah karya menampilkan sosok orangutan, gajah, kuda, ikan, serta berbagai bentuk kehidupan lainnya. Tubuh satwa tersebut dibangun dari material yang justru menjadi bagian dari persoalan pencemaran lingkungan dan ancaman terhadap keberlangsungan habitatnya.
Melalui pendekatan tersebut, Intan tidak hanya memanfaatkan limbah sebagai bahan alternatif penciptaan karya, tetapi juga mengajak pengunjung meninjau kembali hubungan antara kebiasaan konsumsi, produksi sampah, dan kehidupan makhluk lain yang turut menanggung akibatnya.
Dalam proses penciptaannya, Intan mengumpulkan, memilah, memotong, dan merangkai kembali material bekas menjadi berbagai figur dan instalasi. Warna, tekstur, bentuk, serta bekas penggunaan material tetap dipertahankan sebagai bagian dari karakter visual karya.
Latar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Trisakti, Jakarta, turut mewarnai perjalanan artistik Intan. Eksplorasinya terhadap material bekas berkembang dari pengolahan kemasan plastik menjadi karya dua dimensi hingga penciptaan patung satwa dan instalasi berskala besar. Dalam proses tersebut, Intan juga bekerja sama dengan sejumlah komunitas pengumpul sampah plastik.