Melalui kerja sama Bentara Budaya, Litbang Kompas, keluarga Frans Seda, dan Frans Seda Foundation, pameran ini mengajak masyarakat mengenal kembali kiprah salah satu tokoh nasional yang berperan dalam berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, ekonomi, pendidikan, hingga pers. Pameran dikuratori oleh Wawan Abk dari Bentara Budaya bersama Sri Sintasari Iskandar sebagai kurator tenun.
Lahir di Lekebai, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 4 Oktober 1926, Frans Seda menempuh perjalanan panjang dari daerah asalnya hingga turut mengambil bagian dalam berbagai periode penting sejarah Indonesia. Selepas menempuh pendidikan ekonomi di Katholieke Economische Hogeschool, Tilburg, Belanda, ia kembali ke Tanah Air dan aktif dalam dunia politik serta pemerintahan.
Pada masa Presiden Soekarno, Frans Seda dipercaya menjabat sebagai Menteri Perkebunan (1964–1966) dan Menteri Pertanian (1966). Kiprahnya berlanjut pada pemerintahan Presiden Soeharto sebagai Menteri Keuangan (1966–1968) dan Menteri Perhubungan (1968–1973). Ketika Indonesia memasuki masa Reformasi, ia kembali dipercaya sebagai penasihat ekonomi Presiden BJ Habibie pada 1998.
Selain mengemban tugas pemerintahan, Frans Seda turut merintis pendirian Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan menjadi salah satu tokoh di balik lahirnya Harian Kompas pada 28 Juni 1965. Jejak pengabdiannya melintasi perubahan pemerintahan dan memperlihatkan keterlibatannya dalam pembangunan institusi pendidikan serta pers nasional.
General Manager Bentara Budaya & Communication Management, Corporate Communication Kompas Gramedia Ilham Khoiri, dalam pengantar pameran menyoroti komitmen Frans Seda terhadap prinsip salus populi suprema lex, yakni kesejahteraan rakyat merupakan hukum tertinggi. Prinsip tersebut menjadi salah satu landasan pengabdiannya dalam berbagai jabatan publik, melintasi masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi.