Info Unit

Info Unit News

FLASH NEWS

Peringati 100 Tahun Frans Seda, Bentara Budaya Hadirkan Pameran “Untuk Tuhan dan Tanah Air”

JAKARTA, 5 NOVEMBER 2026 — Memperingati 100 tahun kelahiran Frans Seda, Bentara Budaya menggelar pameran bertajuk “Untuk Tuhan dan Tanah Air” di Bentara Budaya Art Gallery, Lantai 8 Menara Kompas, Jalan Palmerah Selatan Nomor 21, Jakarta. Pameran yang dibuka pada Rabu (4/11) ini menghadirkan arsip pemberitaan, dokumentasi foto, serta puluhan tenun Flores yang merekam perjalanan hidup dan pengabdian Frans Seda bagi Indonesia.

Pameran diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo, Jakarta (4/11). “Pameran ini sangat relevan dengan mempelajari tulisan-tulisan yang dibuat di Harian Kompas dan koleksi kain-kain ini. Bagi saya pribadi ke depan atau sekarang ini, wajah tokoh Frans Seda saya rumuskan sebagai hati nurani, bagi perjalanan bangsa kita saat ini.”

whatsapp image 2026 11 05 at 10 15 21

Dok. Multimedia Corporate Communication KG

Corporate Communication Director Kompas Gramedia Glory Oyong, dalam sambutannya, mengungkapkan, “Sosok Frans Seda adalah seseorang yang punya konsep, cakap dalam bekerja, punya jejaring, dan punya komitmen yang tinggi untuk rakyat. Hari ini kita mengenang 100 tahun kelahiran Bapak Frans Seda. Kita menggelar Pameran Arsip Kompas dan Tenun Flores, sehingga bapak ibu bisa meresapi tanah kelahiran dari Pak Frans Seda.”

Melalui kerja sama Bentara Budaya, Litbang Kompas, keluarga Frans Seda, dan Frans Seda Foundation, pameran ini mengajak masyarakat mengenal kembali kiprah salah satu tokoh nasional yang berperan dalam berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, ekonomi, pendidikan, hingga pers. Pameran dikuratori oleh Wawan Abk dari Bentara Budaya bersama Sri Sintasari Iskandar sebagai kurator tenun.

Lahir di Lekebai, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 4 Oktober 1926, Frans Seda menempuh perjalanan panjang dari daerah asalnya hingga turut mengambil bagian dalam berbagai periode penting sejarah Indonesia. Selepas menempuh pendidikan ekonomi di Katholieke Economische Hogeschool, Tilburg, Belanda, ia kembali ke Tanah Air dan aktif dalam dunia politik serta pemerintahan.

Pada masa Presiden Soekarno, Frans Seda dipercaya menjabat sebagai Menteri Perkebunan (1964–1966) dan Menteri Pertanian (1966). Kiprahnya berlanjut pada pemerintahan Presiden Soeharto sebagai Menteri Keuangan (1966–1968) dan Menteri Perhubungan (1968–1973). Ketika Indonesia memasuki masa Reformasi, ia kembali dipercaya sebagai penasihat ekonomi Presiden BJ Habibie pada 1998.

Selain mengemban tugas pemerintahan, Frans Seda turut merintis pendirian Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan menjadi salah satu tokoh di balik lahirnya Harian Kompas pada 28 Juni 1965. Jejak pengabdiannya melintasi perubahan pemerintahan dan memperlihatkan keterlibatannya dalam pembangunan institusi pendidikan serta pers nasional.

General Manager Bentara Budaya & Communication Management, Corporate Communication Kompas Gramedia Ilham Khoiri, dalam pengantar pameran menyoroti komitmen Frans Seda terhadap prinsip salus populi suprema lex, yakni kesejahteraan rakyat merupakan hukum tertinggi. Prinsip tersebut menjadi salah satu landasan pengabdiannya dalam berbagai jabatan publik, melintasi masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi.

whatsapp image 2026 11 05 at 10 15 21 2

Dok. Multimedia Corporate Communication KG

Salah satu bagian menarik dalam perjalanan Frans Seda ialah keterlibatannya dalam pendirian Kompas. Bersama I.J. Kasimo, P.K. Ojong, dan Jakob Oetama, ia turut merintis penerbitan surat kabar yang semula direncanakan bernama Bentara Rakyat. Dalam catatan Frans Seda yang dimuat Kompas pada 28 Juni 1990, nama Kompas kemudian diberikan oleh Presiden Soekarno.

Kisah tersebut menjadi bagian dari rangkaian arsip dan dokumentasi yang ditampilkan dalam pameran. Berita, tulisan, dan foto dari berbagai periode menghadirkan kembali peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan Frans Seda sekaligus perkembangan Indonesia pada masanya.

Selain arsip sejarah, pameran ini menghadirkan puluhan kain tenun Flores dari koleksi Frans Seda bersama istrinya, Yohanna Pattinaya Seda atau Jo Seda. Kehadiran wastra tersebut melengkapi dokumentasi kiprah publik Frans Seda dengan memperlihatkan kedekatannya pada warisan budaya daerah asalnya.

Kurator Pameran Wawan Abk menyampaikan, “Frans Seda tidak berhenti mengabdi untuk Tanah Air dan Tuhan, yang biasa disebut Pro Deo et Patria. Dari sini kita belajar kesetiaan Frans Seda dan Jo Seda dalam merajut Indonesia juga dalam melintasi zaman.”

whatsapp image 2026 11 05 at 10 15 21 1

Dok. Multimedia Corporate Communication KG

Bagi Frans Seda Foundation, pameran “Untuk Tuhan dan Tanah Air” menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali nilai-nilai yang menjiwai perjalanan hidup Frans Seda, terutama integritas, tanggung jawab, dan komitmen untuk mengabdi kepada kepentingan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

“Mengenang Frans Seda itu kita jadikan tema yang berbeda, karena perjalanan 100 tahun ini tidak ada artinya jika tidak ada estafetnya. Kita harapkan ada inspirasi dan bisa digali lebih lanjut, tulisan-tulisan Pak Frans di Kompas. Hari ini kita menikmati apa yang sudah ditulis, yang patut kita wariskan pada generasi selanjutnya,” ungkap Managing Director Frans Seda Foundation Stefanus Ginting.

Melalui pameran ini, Frans Seda Foundation juga berharap warisan Frans Seda tidak berhenti sebagai catatan sejarah seorang tokoh, tetapi dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk berkarya, menghargai keberagaman, dan mengambil bagian dalam pembangunan Indonesia.

Dengan mempertemukan arsip pers, dokumentasi sejarah, dan kekayaan tenun Flores, pameran “Untuk Tuhan dan Tanah Air” membuka ruang bagi masyarakat untuk menelusuri perjalanan seorang putra Flores yang turut memberi warna bagi sejarah Indonesia.

Pameran berlangsung hingga 20 November 2026, setiap pukul 10.00–17.00 WIB, di Bentara Budaya Art Gallery, Lantai 8 Menara Kompas, Jalan Palmerah Selatan Nomor 21, Jakarta. (**)