Kurator pameran, Hilmi Faiq, menyebut pameran ini berangkat dari pengalaman Ramadhan sebagai ruang pengendapan batin. “Dalam momen yang penuh pengendapan ini, manusia belajar kembali mengenali dirinya sebagai makhluk yang rapuh sekaligus mulia,” ujarnya. Ia menambahkan, pameran ini dihadirkan sebagai upaya menghadirkan spiritualitas Islam dalam bahasa rupa yang lebih reflektif. “Setiap karya menjadi pintu yang terbuka pelan, memberi kesempatan bagi siapa saja untuk melangkah masuk dengan tenang.”
Hilmi juga menekankan bahwa latar tradisi kesantrian memberi pengaruh kuat dalam pembentukan sensibilitas artistik para seniman. “Huruf-huruf dibunyikan dan dihayati, kata-kata menjelma pemahaman. Dalam pengalaman panjang itu, spiritualitas meresap dan menemukan ekspresinya dalam warna, garis, bunyi, dan ruang,” katanya.
Para seniman yang terlibat antara lain Acep Zamzam Noor, Agus Baqul, Anis Affandi, Arahmaiani, Didin Sirojuddin, Fadriah Syuaib, Faisal Kamandobat, Fatwa Amalia, Hanafı, Ilham Khoiri, Jumaldi Alfi, Muna Diannur, Nasirun, Qonita Farah Dian, Robert Nasrullah, Said Akram, Syaiful Adnan, Tamar Saraseh, Ujang Badrussalam, hingga Umar Faruq. Latar belakang mereka beragam, mulai dari pendidikan seni formal hingga pengalaman dalam tradisi pesantren.