Info Unit

Info Unit News

FLASH NEWS

Seni Menjadi Sarana untuk “Healing” bagi Masyarakat Urban

JAKARTA, 10 DESEMBER 2025—Kehidupan di kota-kota besar saat ini menuntut semua orang untuk bekerja dalam target yang ketat demi meraih impian sukses dengan standar tertentu. Untuk meredakan tekanan yang rentan membuat depresi itu, kita perlu ambil jeda sejenak dari tekanan rutinitas sembari menyegarkan diri. Salah satunya, dengan cara menikmati karya seni yang menghibur sekaligus mencerahkan batin dan pikiran.

Semangat itu dapat ditemukan dalam pameran bertajuk “Spiritualitas Urban: Mencari Hening dalam Gemuruh” di Bentara Budaya Art Gallery di Jakarta, 9 Desember 2025 hingga 30 Januari 2026. Dibuka oleh Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, Selasa (9/12/2025) sore, pameran menampilkan 21 lukisan kaca koleksi Bentara dan sejumlah lukisan karya sembilan seniman undangan. Kurasi ditangani Frans Sartono dan Efix Mulyadi. 

whatsapp image 2025 12 10 at 13 25 28 a86f11d4

Dalam sambutannya, Komaruddin Hidayat mengungkapkan, “Pameran ini mengetengahkan tentang pencarian lebih dalam, inner journey. Sesuatu yang bisa ditunjuk, tetapi sulit diterangkan. Sesuatu yg bersifat ruh, hakikat spirit itulah diri kita yang sejatinya.”

“Melalui lukisan sebagai cosmos yang indah, manusia dituntut berpikir dan berimajinasi. Karya lukisan ini membawa kita pada journey, tergantung intuisi, imajinasi masing-masing. Lewat karya-karya manusia menjadi master dan majikan bagi dirinya sendiri, bukan diperbudak pada sekadar ikutan duniawi,” tutup Komaruddin.

Pada hakekatnya pameran ini menelusuri bagaimana masyarakat urban mencari kembali ruang teduh di tengah tekanan hidup perkotaan. Lukisan kaca menghadirkan jejak kearifan lama seperti folklor, mitologi, epos, dan pencapaian rohani masa silam, sementara karya seniman masa kini menyoroti pergulatan batin masyarakat urban yang terjepit tekanan sosial dan mental. Karya para seniman dalam pameran ini mengekspresikan keindahan, ketenangan, dan keasyikan visual yang terinspirasi dari sumber-sumber spiritual. 

whatsapp image 2025 12 10 at 13 22 47 d362a5f5

General Manager Bentara Budaya dan Corporate Communication Kompas Gramedia, Ilham Khoiri, mengingatkan akan analisis filsuf Korea, Byung-Chul Han, bahwa manusia modern hidup dalam lingkaran “burnout” atau keletihan yang lahir dari tuntutan produktivitas tanpa henti. Tekanan itu kian diperberat oleh gaya hidup digital yang menempatkan pencitraan sebagai ukuran keberhasilan. Dalam konteks kemacetan, tuntutan produktivitas, dan tekanan ekologis, seni diposisikan sebagai medium pemulihan batin yang memberi jeda dari rutinitas yang serba cepat. 

“Pameran ini mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas. Seni memberi ruang kontemplasi agar manusia dapat menemukan kembali dirinya yang lebih otentik, sekaligus mempertautkan hubungan dengan sesama secara lebih menyentuh, bukan sekadar pencitraan di media sosial,” ujarnya. 

whatsapp image 2025 12 10 at 13 25 27 0065de5c

Kurator Frans Sartono mengungkapkan, pameran ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana laku spiritual dapat bertahan di tengah perubahan zaman. “Karya-karya lukisan kaca memberi kesaksian tentang berbagai olah spiritual pada masa lalu. Dari para seniman masa kini, kami berharap muncul paparan yang segar dan relevan dengan kehidupan zaman ini,” ujarnya.

Membaca Kembali Spiritualitas di Tengah Tekanan Urban

Sebagai respons terhadap pergulatan masyarakat masa kini, karya-karya yang dipamerkan menawarkan pembacaan ulang atas spiritualitas dalam berbagai wujudnya. Subandi Gianto, misalnya, menempatkan simbol kemewahan dalam Cerita dalam Mobil Bogati sebagai metafora tentang keberhasilan yang rapuh, sementara Barlin Srikaton menghidupkan kembali figur Buto Ijo untuk menyoal kecenderungan mencari cara-cara instan dalam meraih kemakmuran.

Gunawan Bonaventura merespons ritme kehidupan modern yang bergerak terlalu cepat melalui karya grafis bernuansa surealistik, menghadirkan suasana ketergesaan yang membuat waktu seolah tak lagi memberi ruang jeda. Nuansa batin yang lebih mencekam tampak dalam karya Diah Yulianti, yang memadukan sensibilitas masa kecilnya dengan atmosfer wingit untuk menyingkap lapisan spiritualitas yang tumbuh dari pengalaman personal.

whatsapp image 2025 12 10 at 13 22 46 d2104b6b

Putu Fajar Arcana menautkan kembali manusia pada ritual keseharian melalui medium kopi bekas sesaji, simbol syukur dan kelimpahan yang akrab dalam tradisi Bali. Sementara Vincensius Dwimawan menampilkan gambaran intim tentang kerentanan manusia, di mana luka dan harapan hadir berdampingan. 

Oliver Wihardja menafsirkan kembali Barongsai sebagai tradisi yang tetap hidup di tengah modernitas, memadukan nostalgia dengan dinamika masyarakat urban masa kini.

Dalam karya lainnya, Hari Budiono menghadirkan sosok Buddha sebagai simbol perjalanan batin lintas generasi dan lintas zaman, menegaskan bahwa pencarian spiritual tidak pernah benar-benar selesai. Sementara itu, Sujiwo Tejo memotret suasana pertunjukan sebagai ritual kolektif yang mempertemukan manusia dalam pengalaman bersama.

whatsapp image 2025 12 10 at 13 22 46 fd90bf54

Rangkaian karya tersebut menunjukkan bahwa spiritualitas tidak hadir dalam bentuk tunggal. Ia menjelma dalam refleksi personal, ritual keseharian, pemaknaan ulang tradisi, dan pergulatan batin yang menyertai kehidupan modern. Di tengah tekanan hidup kota, nilai-nilai lama dan pengalaman kontemporer saling bersinggungan, membuka kemungkinan baru untuk menata kembali keseimbangan batin.

Melalui lukisan kaca dan karya kontemporer, pameran ini menghadirkan ruang kontemplasi bagi publik. Ia bukan hanya pergelaran seni rupa, melainkan undangan untuk berhenti sejenak, mengambil jarak dari gemuruh kehidupan kota, dan merenungkan kembali hal-hal yang memberi arah pada perjalanan bersama.