Bebas Stres Saat Pandemi

Published by CorComm

oleh: dr. Santi (Medical Center KG) @kenapayadok.com

Pandemi Covid-19 menimbulkan banyak ketidakpastian, kekhawatiran, dan ketakutan. Segala sesuatu berpotensi menyebabkan stres berkepanjangan, mulai dari kekhawatiran akan kesehatan diri dan keluarga, resesi ekonomi, masa depan yang sulit dipastikan, hingga perubahan pola kerja. Tambahan lagi, anjuran untuk #dirumahsaja, menghindari kontak fisik, dan menjaga jarak dengan orang lain membuat kita merasa terisolasi dan kesepian. Hal ini normal dan manusiawi.

Ada pula dampak negatif lain yang perlu diwaspadai, yaitu:

  • Kekacauan pola tidur
  • Perubahan pola makan
  • Penurunan aktivitas fisik harian
  • Meningkatnya penggunaan alkohol, narkoba, dan rokok
  • Meningkatnya pertengkaran dan kekerasan dalam rumah tangga
  • Memburuknya kondisi penyakit kronis yang telah diderita

Β 

Meski demikian, kita tak boleh putus asa menghadapi situasi pandemi ini. Banyak pula hal positif yang juga terjadi selama masa pandemi, seperti meningkatnya kualitas hubungan antar-anggota keluarga, meningkatnya kualitas belajar dan bekerja secara daring, meningkatnya kualitas hidup karena tersedianya waktu dan tenaga untuk menjalankan pola hidup sehat, juga adanya waktu luang untuk melakukan hobi.

Bagaimanapun, kemampuan orang dalam menghadapi situasi sulit berbeda-beda. Karena itu, tingkat kerentanan stres setiap orang juga berbeda-beda. Kita perlu memperhatikan tanda-tanda stres yang timbul dalam diri kita sendiri maupun orang di sekitar kita. Segera lakukan intervensi sebelum terlambat. Cari bantuan sesegera mungkin manakala ada yang merasa stres. Semakin cepat mendapat penanganan, semakin cepat stres dapat ditanggulangi.

Kita tahu kesehatan tubuh tidak dapat dipisahkan dari kesehatan jiwa atau mental. Ingat selalu bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Karena itu, menjaga kesehatan fisik dan mental sama-sama penting. Menjaga kesehatan tubuh dapat dilakukan dengan cara:

πŸ‘ Cukupi kebutuhan tidur.

Pembatasan sosial membuat orang banyak berada dalam rumah. Perubahan ini sering membuat jadwal tidur menjadi kacau. Tidur yang cukup sangat berperan dalam menjaga kesehatan tubuh dan mental. Cobalah untuk kembali ke jadwal tidur semula dan tetap jalankan dengan tertib. Segera hubungi tenaga kesehatan jika mengalami masalah tidur.

πŸ‘ Makan makanan yang bergizi lengkap dan seimbang serta cukupi kebutuhan minum.

Bagi sebagian orang, pola makan selama pandemi menjadi lebih baik, tetapi bagi kelompok lain, pola makan bisa menjadi lebih buruk. Usahakan selalu untuk dapat makan makanan yang sehat. Makanan yang sehat dapat dibuat menjadi nikmat dan hemat. Belajarlah memilih atau membuat makanan sehat dari berbagai media yang tersedia seperti buku, majalah, Internet, dan lainnya.

πŸ‘ Aktif bergerak dan rutin olahraga.

Diam dalam rumah seharusnya membuat orang memiliki lebih banyak waktu dan fleksibilitas untuk melakukan aktivitas fisik dan olahraga. Sayangnya, sering kali orang banyak menghabiskan waktu secara sia-sia dengan penggunaan gawai (ponsel, laptop, televisi, dan lain-lain) secara berlebihan. Cobalah melakukan refleksi berapa lama waktu yang dihabiskan untuk berselancar di dunia maya, bermain game, ngobrol ngalor-ngidul, mengintip media sosial orang lain, dan seterusnya. Buat skala prioritas waktu. Atur agar waktu untuk melakukan hal lainnya tidak habis tersita oleh gawai.

πŸ‘ Hindari atau setidaknya batasi kebiasaan buruk seperti merokok, minum alkohol,Β dan lain-lain.

Sibukkan diri dan alihkan perhatian agar keinginan untuk melakukan berbagai kebiasaan buruk mereda atau menghilang. Lakukan aktivitas menyenangkan dan disukai, yang berupa kegiatan positif, misalnya bernyanyi, menari, berkebun, mengerjakan pekerjaan tangan lainnya, memasak, menulis, mengarang lagu, bermain musik, olahraga, belajar bahasa baru, dan sebagainya.

Β 

Untuk menjaga kesehatan mental, lakukan beberapa kiat berikut:

πŸ’ͺ Hindari faktor pemicu stres.

Perhatikan apa saja yang memicu stres, misalnya pemberitaan tentang Covid-19, situasi perekonomian, kriminalitas, dan seterusnya. Selanjutnya, batasi pemicu stres, misalnya dengan membatasi menonton, membaca, atau mendengarkan pemberitaan dari berbagai sumber yang tidak jelas. Carilah informasi dari sumber yang kredibel.

πŸ’ͺ Jangan berfokus pada kekhawatiran yang berada di luar kontrol kita, misalnya penemuan vaksin dan obat untuk Covid-19, angka kriminalitas yang meningkat, situasi perekonomian yang memburuk, dan lain-lain. Ubah situasi khawatir dengan mengambil tindakan yang dapat dilakukan dalam kontrol kita. Misalnya, jika khawatir tertular Covid-19, lebih baik terapkan berbagai protokol pencegahan dengan benar dan konsisten serta menjaga daya tahan tubuh alih-alih membiarkan kekhawatiran membuat diri menjadi stres. Untuk menghindari kejahatan, jaga diri dan rumah agar aman dari incaran penjahat dengan tidak memakai perhiasan mencolok, tidak menyimpan barang berharga di rumah, mengunci pintu dengan baik, dan seterusnya. Jika resah dengan situasi ekonomi, lakukan berbagai penghematan dan berusahalah menambah pemasukan dengan berbagai cara positif misalnya mencari tambahan pekerjaan, mulai melakukan bisnis kecil, dan seterusnya.

πŸ’ͺ Melihat dengan sudut positif.

Pandemi memang menjauhkan kita dari berbagai hal, bepergian untuk bekerja sehari-hari maupun berlibur, kegiatan sosial, hal-hal kecil yang menyenangkan, nonton di bioskop, arisan, dan lain-lain. Namun, lihatlah dari sisi yang lain bahwa pandemi membuat kita menghabiskan lebih banyak waktu di rumah bersama keluarga. Buatlah momen ini menyenangkan dengan melakukan kegiatan bersama seperti bermain, memasak, berkebun, atau sekadar mengobrol.

πŸ’ͺ Jangan menuntut kesempurnaan baik dari diri sendiri maupun orang lain. Turunkan ekspektasi, misalnya selama sekolah daring, biarlah anak tidak meraih nilai sempurna. Tidak perlu pula membuktikan diri sebagai orangtua teladan yang superhebat. Utamakan kebahagiaan anak dan orangtua.

πŸ’ͺ Buat prioritas, misalnya lebih baik tetap dapat bekerja dengan baik dan membiarkan cucian terbengkalai.Sesekali gunakan jasa laundry atau membeli makanan. Tindakan itu bukanlah dosa besar. Tidak perlu harus sempurna dalam menjalani hidup. Kebahagiaan mengalahkan kesempurnaan.

πŸ’ͺ Usahakan menjalankan rutinitas sama seperti kondisi sebelumnya.

Melakukan kegiatan rutin membantu kita menjaga kesehatan mental. Misalnya, tetaplah bekerja dengan jam kerja seperti biasa walaupun di rumah. Jika sementara waktu tidak bekerja (dirumahkan atau terkena pemutusan hubungan kerja) tetaplah lakukan sesuatu, misalnya berusaha mencari pekerjaan, mencoba pekerjaan baru yang bisa dikerjakan mandiri, seperti mencoba berkebun, beternak, membuat berbagai hal yang dapat dijual, atau mencari peluang dengan menghubungi saudara dan teman.

πŸ’ͺ Tetap menjaga relasi sosial dengan kerabat, teman, atau tetangga di sekitar kita. Jika kita membutuhkan bantuan, baik secara fisik, finansial, maupun mental, cobalah cari bantuan dari berbagai pihak seperti kerabat, teman, tetangga, pemerintah setempat, pemuka agama setempat, lembaga-lembaga sosial, dan seterusnya. Jika kita kebetulan berkecukupan, ulurkan tangan secara langsung bagi mereka yang kurang beruntung atau melalui berbagai lembaga social dan lembaga keagamaan. Membantu orang lain memberikan kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan uang.

πŸ’ͺ Segera cari bantuan jika merasa stres mengganggu hidup. Cobalah mencari dukungan moral dari keluarga, sahabat, atau rekan kerja, atau hubungi pemuka agama. Bila perlu, hubungi tenaga kesehatan terdekat. (*)

Content Writer

AGATHA TRISTANTI

Corporate Branding Analyst

KOMPAS GRAMEDIA - CORPORATE COMMUNICATION