Insight Kognisi

>

Technical

Technical

Dana Darurat dan Investasi: Strategi Mengelola Keuangan di Tengah Pandemi

MUHAMMAD IRHAM RAMADHAN

Dipublikasikan

Dunia, termasuk Indonesia, saat ini sedang memasuki ujian baru, yaitu pandemi Covid-19. Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020, dampaknya langsung terasa di berbagai lapisan masyarakat. Selain dampak kesehatan, salah satu dampak lain yang paling terasa adalah dampak ekonomi, baik individu, rumah tangga, maupun korporasi.

Kesehatan keuangan semakin rentan terutama saat pemerintah mulai memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Bekerja di rumah pun menjadi cara kerja baru, meski tidak semua bidang pekerjaan bisa dilakukan di rumah. Lesunya ekonomi membuat penghasilan sebagian pekerja terancam, mulai dari pemotongan gaji hingga kemungkinan dirumahkan.

Belum adanya kepastian kapan pandemi ini akan berakhir membuat sebagian besar orang menjadi was-was terhadap keadaan ekonominya. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan mulai dari penghasilan dan dana darurat menjadi semakin krusial untuk bertahan hidup. Semua ini disampaikan dalam webinar bertajuk "Financial Planning During Pandemic” yang menghadirkan Wartawan Harian Kompas Joice Tauris Santi C.F.P dengan moderator Digital Transformation Specialist HR Sulyana Andikko pada 22 April 2020. Diskusi yang berlangsung selama dua jam ini diikuti hampir 50 peserta, terdiri dari karyawan Kompas Gramedia dan mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara. Webinar terutama membahas tentang pentingnya strategi keuangan pada saat krusial seperti pandemi yang sekarang melanda.

Joice mengatakan bahwa International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi di dunia akan minus akibat pandemi Covid-19. Meski demikian, Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani memperkirakan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 0.5%. Oleh karena itu, Joice menekankan pentingnya mendahulukan kebutuhan primer seperti pangan dan listrik dibanding kebutuhan lain yang sifatnya bisa ditunda.

“Ada kecenderungan makan lebih banyak saat work from home dan memengaruhi belanja kita, apalagi sekarang ada uang digital (jadi lebih boros). Hal ini harus diperhatikan, misalnya yang bagian ini bengkak (lalu) yang bagian mana yang harus ditekan, untuk itu perlu membuat prioritas,” jelasnya.

Dana Darurat dan Investasi: Bentuk Kebiasaaan Dulu
Joice juga menekankan pentingnya memiliki dana darurat di saat seperti ini. Menurutnya, dana darurat dapat digunakan saat terjadi peristiwa mendadak seperti pemutusan hubungan kerja (PHK), kendaraan rusak, ada sanak saudara yang dirawat di rumah sakit, dan lain-lain. Pada prinsipnya, mengumpulkan dana darurat dapat dilakukan dengan menyisihkan dan bukan menyisakan. Misalnya tidak ada pengeluaran transportasi ke kantor, maka alokasi anggaran itu bisa masuk ke dana darurat untuk berjaga-jaga. 

“Bagi yang sudah memiliki dana darurat dapat menggunakan dana tersebut untuk membayar listrik, berobat, dan lain sebagainya di tengah pandemi yang membuat penghasilan tidak maksimal. (Bagi yang belum) dana darurat bisa juga dikumpulkan dari THR yang tidak terpakai saat ini karena tidak ada kegiatan-kegiatan seperti buka bersama dan mudik Lebaran,” terang Joice lebih lanjut.

Serupa dengan dana darurat, investasi juga dapat dimaksimalkan untuk membantu mengantisipasi kondisi keuangan selama berlangsungnya pandemi. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pengguna layanan teknologi finansial terbesar berasal dari kelompok usia 19-34 tahun dengan pendapatan Rp5 juta–Rp15 juta per bulan. Di sisi lain, temuan OJK pada 2018 juga mengindikasikan bahwa milenial ​kurang suka menabung​. Untuk itu, Joice menyarankan bagi para mahasiswa atau pekerja muda untuk mulai menyisihkan uang dengan cara investasi sedikit-sedikit.

Investasi pemula dapat dimulai dengan investasi reksadana pasar uang yang nilai fluktuasinya lebih stabil dan tidak mudah terpengaruh kondisi perekonomian dunia. Kenaikannya juga sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan penempatan deposito. Esensinya adalah membentuk kebiasaan menabung sekaligus berinvestasi. Sebagai penutup, Joice mengajak para peserta untuk tetap berbagi meskipun kecil karena akan sangat berarti di tengah pandemi seperti ini. 

Menarik bukan topik webinar Kognisi kali ini? Yuk, ikut banyak webinar Kognisi yang lain. Kognisi sendiri adalah ​platform berbasis edukasi khusus untuk karyawan Kompas Gramedia dengan berbagai pilihan materi dan kelas. Informasi lebih lanjut mengenai Kognisi dan webinar selanjutnya bisa langsung mengunjungi akun Instagram @kognisikg dan situs learning.kompasgramedia.com. Selamat belajar, Kogifriends! ​Stay safe, and stay sane! (*)