Bangkitkan Asa dalam Karier Lewat Grit

Published by CorComm

Menurut berbagai penelitian, kebahagian orang dipengaruhi oleh hubungan sosial, pekerjaan maupun pendidikan, dan fisik yang sehat. Sebanyak 36 persen kebahagiaan terdapat dalam pekerjaan. Untuk mencapai dan memelihara kebahagiaan dalam bekerja kita membutuhkan yang namanya semangat kegigihan (grit). Apakah itu? Untuk memperdalam definisi tersebut, Kognisi mengadakan webinar pada 30 September 2020 lalu yang diikuti lebih dari 300 peserta. Head of Media Academy KG Media Doan Simanullang menjadi narasumber webinar dengan judul “Grit: Finding Happiness in Your Career”. 

Sebelum memulai sesi, Doan menanyakan kepada para peserta, “Apakah Sobat Kogi bahagia pada hari ini?”, dengan mengisi skala kepuasan hidup yang salah satunya terdapat dimensi kebahagiaan. Dari beberapa pertanyaan dalam skala, Doan menyinggung salah satunya, “Jika saya bisa mengulangi hidup saya, saya hampir tidak akan mengubah apa pun.” Hal ini menarik, karena jika sudah bahagia dengan pekerjaan, pengalaman baik dan buruknyalah yang akan mewarnai perjalanan kehidupan.

Semangat kegigihan versus talenta
Ketika Doan mulai menyinggung tentang grit, ia merujuk kepada buku dan penemu konsep grit, yaitu Angela Duckworth. Doan menceritakan kisah hidup Angela yang saat masih kecil melakukan tes intelegensi dengan hasil tidak genius. Ayahnya kecewa dengan hasil tersebut dan berulang kali melabel Angela sebagai orang yang tidak pintar. Namun, setelah beranjak dewasa pada tahun 2013, Angela mendapatkan penghargaan MacArthur Fellowship, penghargaan untuk orang yang berdedikasi, original, dan kreatif menghasilkan kontribusi pada lingkungan. Walaupun Angela bukan orang genius, dari situ ia menemukan konsep grit yang menyatakan bahwa keberhasilan ditentukan oleh gairah (passion) dan kegigihan (perseverance).

Kemudian, Doan mengajak para peserta untuk mencari benda di sekitar yang bisa melambangkan grit. Doan menganalogikan pulpen sebagai grit, “Bagi saya pulpen membantu saya untuk menjadi grit. Kenapa? Karena dengan benda ini saya bisa merencanakan goals saya.” Setiap orang dapat mendefinisikan grit secara berbeda. Namun, yang terpenting definisi tersebut dapat diartikan sebagai seseorang yang memiliki gairah dan kegigihan untuk mencapai tujuan jangka panjang. Demi mencapai tujuan, individu memerlukan dorongan untuk terus bertahan (endurance), karena mencapai tujuan entah dalam dunia profesional maupun personal kerap kali merupakan maraton bukan lari cepat (sprint).

Tetapkan Tujuan: Gairah dan kegigihan sebagai modal utama
Kemampuan menahan penderitaan adalah makna dari kata ‘passion’ menurut bahasa latin. Dalam menggambarkan makna gairah (passion), Doan menceritakan kisah seorang temannya yang berpendidikan tinggi dan mendapatkan tawaran kerja yang layak. Namun, tawaran kerja tersebut ditolak karena tidak sesuai dengan passion-nya, yakni melukis. 

“Menurut Angela Duckworth, passion adalah minat terhadap sesuatu. Atau mencapai sesuatu dengan konsistensi pada minat dan usaha,” jelas Doan. Namun minat bukanlah passion, melainkan benih dari passion. Bagaimana menerka passion kita? Doan menjelaskan bahwa passion sudah terlihat dari kecil dengan melihat minat pada aktivitas yang disukai dan ketika menjalankannya seolah hal tersebut memancarkan energi yang “gue banget”. Namun, apakah minat (interest) saja cukup? Jelas tidak. Di sisi lain, individu juga memerlukan usaha (effort) dan investasi baik waktu, uang, dan energi untuk mengubah minat menjadi keterampilan (skill) yang bernilai guna. Doan menggambarkan proses tersebut dengan pengingat, “Memelihara atau menjaga bara dari passion itu penuh proses yang menimbulkan derita, tapi derita itu menjadi worth it apabila kita tahu tujuan yang hendak kita capai.” 

Setelah memiliki keterampilan yang diiringi dengan usaha, maka kita akan mencapai tujuan yang diinginkan, itulah grit. Tujuan (purpose) dapat diraih dengan gairah (passion), nilai personal (personal value), dan nilai pada orang lain (value to others). Doan menjelaskan ini sambil bercerita bahwa tujuan hidupnya adalah, “Menjadi individu yang bertumbuh, kembangkan hal yang menjadi kekuatan, dan membantu orang lain. Tantangan pasti ada lah, kuncinya ada di pola pikir bertumbuh atau growth mindset.” Pesan terakhir yang disampaikan Doan sebagai penutup adalah mengenai pentingnya dukungan sekitar, baik emosional, instrumental, relasi pendamping, dan informasi. Ini menjadi masuk akal karena individu tidak akan mungkin mencapai puncak gunung tanpa mendaki bukit-bukitnya terlebih dahulu.

Kognisi adalah produk turunan Growth Center, yang merupakan platform berbasis edukasi persembahan Kompas Gramedia yang dibangun pada Mei 2019. Kognisi secara periodik juga mengadakan webinar yang terbuka untuk publik. Informasi lebih lanjut mengenai webinar Kognisi selanjutnya bisa langsung mengunjungi akun Instagram @kognisikg dan situs learning.kompasgramedia.com (khusus karyawan Kompas Gramedia). Selamat belajar, Kogi Friends! Stay safe, healthy, and sane! (*)


Penulis: Riska Krisnovita | Editor: Sulyana Andikko | Ilustrator: Elvira Tantri
 

Content Writer

SULYANA ANDIKKO

HR Expertise Specialist

KOMPAS GRAMEDIA - CORPORATE HUMAN RESOURCES