Warnasari P.K. Ojong

AGATHA TRISTANTI

 

oleh: Indra Gunawan M. (Purnakarya KG, jabatan terakhir Wakil Presiden Direktur Kompas Gramedia)                                                                                         

Tanggal 31 Mei 1980 adalah hari meninggalnya P.K. Ojong, salah seorang pendiri Kompas Gramedia. Jadi, sudah 40 tahun atau kalau direntang dari hari kelahirannnya, 25 Juli 2020, sudah satu abad (100 tahun). Berikut ini sekadar kenangan ringan tentang beliau.

                                                                             ***
Sebelum Harian Kompas terbit (1965), sebelum majalah Intisari lahir (1963), saya telah mengenal Pak Ojong. Mungkin sekitar tahun 1960-an. Rumahnya di Jalan Slamet Ryadi IV, rumah ayah saya di Jalan Slamet Ryadi III, di daerah Jatinegara. Sewaktu majalah Intisari terbit, saya didorong untuk coba menulis di situ. Ketika itu saya sudah menjadi wartawan di LKBN Antara sekaligus mahasiswa di Perguruan Tinggi Publisistik. Saya mengirim tiga artikel: dua yang pertama ditolak redaksi, yang ketiga dimuat tetapi hanya sebagian. Wah, saya harus lebih meningkatkan bobot tulisan agar lebih kekar dan bernas, demikian terlintas di pikiran.

                                                                               ***

Dalam obrolan di rumahnya, ia senantiasa berpesan agar orang harus mumpuni di bidang profesi yang digelutinya. Kalau jadi tukang kayu, ya tukang kayu yang bagus dan halus serutannya. Kalau jadi wartawan, ya wartawan yang berkelas. Jangan cepat berpuas diri dengan apa yang dicapai.

Sekali waktu ia menyuruh saya berkenalan dengan dua Soe bersaudara (Soe Hok Djin yang kemudian menjadi Arief Budiman dan Soe Hok Gie) di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Kota. Saat itu keduanya belum menjadi orang terkenal. Arief Budiman baru menulis beberapa esai di majalah Intisari. Rumah mereka berdua kecil sempit di gang, pakaian mereka sederhana, malah cenderung agak lusuh.

Arief relatif pendiam, mendengarkan pembicaraan sembari memainkan saputangan di antara kedua tangannya. Sebaliknya, Soe Hok Gie cenderung vokal. Ia bertanya apakah saya kenal Soedjatmoko, pemikir kelas berat itu. Tentu saja saya menggeleng. Kemudian Soe Hok Gie bercerita perihal isi sebuah buku (judulnya saya sudah lupa) mengenai sejarah pemikiran manusia. Berhubung saya memang belum membacanya, saya tak dapat memberi komentar apa-apa.

Banyak tahun kemudian, setelah saya di Kompas, baru saya tahu bahwa anak-anak muda itu, sebelum mereka menjadi aktivis terkenal, rupanya sudah terhimpun dalam klub diskusi dengan orang-orang seperti Soedjatmoko, Rosihan Anwar, P.K. Ojong, Ong Hok Ham, dan lain-lain. Pantesan.

                                                                                 ***

Saya bergabung dengan Harian Kompas beberapa bulan sebelum koran itu terbit (28 Juni 1965). Tak ada psikotes, tak ada juga wawancara, bahkan juga tak mengisi formulir karyawan, melainkan langsung disuruh kerja dan kerja. Pak Ojong memberi saya tugas menerjemahkan artikel-artikel pendek dari majalah New Scientist, majalah ilmiah yang walau populer tetapi tetap tak mudah dicerna oleh awam. Terpaksa saya membuka kamus berulang-ulang. Hasil terjemahan saya serahkan kepada Pak Ojong.

Saya kurang tahu kapan ia memeriksanya, tetapi selang sehari atau dua hari hasil kerja saya itu dikembalikan dengan banyak coretan bolpoin merah. Nampaknya dalam menerjemahkan, kita selayaknya menempatkan “kaki ke dalam sepatu” pembaca. Pertama, isi terjemahan harus akurat, tak perlu harfiah, namun bisa dimengerti secara populer oleh pembaca umum. Hindari kalimat-kalimat majemuk berkepanjangan yang membuat pemahaman menjadi kabur, tak jelas maksudnya.

Pak Jakob memberi tugas kepada beberapa calon wartawan terrmasuk saya untuk melakukan reportase investigatif. Saya mewawancara RAJ Sudjasmin, dirigen terkenal saat itu; Soekarno M. Noor, bintang film tersohor pada zamannya; bellboy, istilah keren untuk pelayan tamu di hotel  yang ternyata banyak menyimpan “rahasia” para tamunya; dan sebagainya. Saya heran para narasumber itu antusias saja diwawancara, padahal korannya sendiri belum ada. Namanya saat itu juga tak dikenal dan belum tahu kapan terbitnya. Anak-anak muda, calon wartawan Kompas, yang kebanyakan hijau pengalaman juga sama antusiasnya. Nampaknya diam-diam mereka menganut dalil “You are what you believe in”, “Anda adalah (menjadi) seperti yang Anda percayai”.

                                                                      ***

Beberapa tahun setelah saya menikah, saya pindah dari rumah orangtua saya di Jalan Slamet Ryadi dan menghuni rumah sendiri di bilangan Cawang Kapling, yang masih masuk  bilangan Jatinegara juga.

Suatu hari Minggu sewaktu saya dan istri baru pulang dari gereja dan turun dari becak di depan rumah, saya terkejut melihat Pak Ojong duduk di kursi di beranda rumah. Wah, kaget betul, belidau datang tanpa pemberitahuan lebih dulu. Nampaknya ia baru saja mendatangi agen koran di di wilayah Cawang Kapling kemudian menyempatkan diri ke rumah saya. Kami persilakan Pak Ojong masuk, melihat-lihat ke dalam rumah. Ia hanya sebentar bercakap-cakap lalu pamit pergi. Rumah kami itu masih baru, dibelikan oleh orangtua, karena berapa sih gaji wartawan saat itu. Perusahaan juga belum kuat untuk memberikan pinjaman ataupun tunjangan perumahan.

Selang beberapa waktu kemudian, sewaktu saya bertemu Pak Ojong di kantor Jalan Gajah Mada, ia berbicara mengenai “woonkultur”, kultur hunian yang ia lihat pada rumah Pak Adisubrata. Setelah direnungkan, saya merasa tersindir halus. Rupanya rumah saya itu, walau masih baru, kurang memiliki estetika: kurang ada  tanaman hias, lukisan, keramik, ataupun benda benda seni lainnya. Sejak saat itu saya coba mendalami  estetika, mulai mendatangi pameran lukisan, membaca sajak, atau menonton drama pertunjukan Rendra, dan lain-lain.

                                                                          ***

Tahun 1976, sewaktu jabatan Kepala Toko Buku Gramedia lowong, saya  menghadap Pak  Jakob dan mengutarakan minat saya untuk belajar hal baru. Pak Jakob sebentar tertegun karena katanya saya termasuk tenaga “inti” di redaksi, tetapi kemudian membolehkan saya menemui Pak Ojong. Pak Ojong sendiri tampak gembira karena ada tenaga senior mau turun di formasi toko buku yang saat itu baru tiga buah dan hidupnya masih kempas-kempis.

Saya tak langsung pindah ke toko buku, melainkan dikirim dulu ke Eropa untuk mendalami seluk-beluk manajemen toko buku agar nanti Toko Buku Gramedia bisa dikelola lebih maju dan modern dibanding dengan yang sudah ada di Indonesia.

Banyak tahun kemudian, lewat LPPM saya juga mendapat kesempatan untuk belajar macam-macam jenis ketrampilan mulai dari manajemen pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, dan strategi bisnis. Dengan banyak belajar lewat kuliah, kursus, seminar, dan banyak membaca buku, hidup saya lebih terbentuk. Saya berterima kasih kepada Pak Ojong dan Pak Jakob yang banyak memberi dorongan. Belajar dan membaca, membaca dan belajar! (*)

Content Writer

AGATHA TRISTANTI

Corporate Branding Analyst

KOMPAS GRAMEDIA - CORPORATE COMMUNICATION